la storia di Gea Ciao a tutti! well, tanpa basa-basi, saya Gea. Asal Jogja tapi perwakilan dari chaper Semarang. A bunch of luck, setelah menunggu hampir setahun lamanya, saya dapat host-fam di Italia bernama Marsico, yang terdiri dari Papà, Mamma, Alessandra dan kakaknya, Andrea. Another luck, mereka tinggal di ibukota Italia, semua juga tau, mana lagi kalau bukan Roma. Kalau ditanya bagaimana pengalaman di sini, saya perlu berpikir agak penjang. Karena saya tidak mudah menemukan satu kata yang mampu mendeskripsikan seluruh perasaan saya. But, all in all, I sum up this journey as a WONDERFUL experience that priceless and nothing can substitute my life here. Check my more-detail stories below. Happy Reading :D Di rumah 3 bulan yang lalu saya tidak tau ; 1. Kalau tiap pagi saya harus buka jendela kamar saya. 2. Jika jendela dapur, ruang tv, dan kamar andrea; host-brother saya, kakaknya alessandra dimana komputer yang saya operasikan berada disana, wajib dibuka tidak sampai semua. 3. Caranya mengiris daging dengan garpu di kiri, pisau di kanan secara baik dan benar. 4. Kalau makan pisang, kulitnya musti dicopot semua. 5. Kalau jemuran harus dimasukkan kedalam rumah setelah fare la cucina alias membereskan dapur setelah makan malam Di sekolah 12 minggu yang telah berlalu, saya ; 1. Belum berani jalan ke kamar mandi sendiri. 2. Masih takut jajan ke La machinetta: food machine.  3. Irit ngobrol sama teman satu kelas. 4. Tidak paham sa-ma-se-ka-li materi pelajaran yang disampaikan dan topik yang sedang dibicarakan. 5. Selalu bawa dan baca kamus Italia-Indonesia. Lain-lain di 90 hari yang lampau : 1. Belum berteman baik dengan jalur bus + metro. 2. Belum merasa nyaman dipandang orang dengan tatapan lebih dari dua detik. 3. Belum terbiasa menyapa duluan teman-teman sekelas, sesekolah, seorkestra dan sekursus bahasa inggris. 4. Belum kenal bahasa gaulnya anak Roma. 5. Masih buta harga pizza dkk.  Dan kini, pelan tapi pasti, banyak poin yang berubah. Sekarang saya; 1. tau sifat, karakter dan apa yang disuka dan yang tidak disuka host family saya. Contohnya, Papá adalah figur ayah dan suami yang luarbiasa sabarnya, mirip Bapak kuranglebih, lalu Mamma tidak mengkonsumsi pasta, kemudian Ale, remaja kritis yang cita-citanya ingin jadi jurnalis, dan Andrea; host-bro saya yang cakep ini tidak suka kacang polong dan timun. 2. Bisa ikut tertawa kalau teman-teman IV G sedang bercanda, sanggup menjawab pertanyaan-pertanyan simpel mengenai topik pelajaran dari prof.ssa Calcagni dan rekan sejawatnya, tidak malu-malu lagi ke kamar mandi ataupun jajan sendirian ke la machinetta. 3. Mulai hafal rute bus dan metro dari rumah ke centro a.k.a lokasi Colosseo + Via del Corso, tau dimana saya bisa cicip masakan indonesia tanpa bayar (baca: Kedubes RI Vatikan), paham toko-toko mana saja yang minta ampun mahalnya, logis harganya sampai yang cukup ramah sama kantong saya andaikata saya perlu beli baju, sepatu dan buku baru. :D 4. Mampu menangkap instruksi konduktor orkestra I Pini di Roma, bisa melakukan komunikasi dua arah dengan tetangga, tidak loading-loading amat kalau ditanya ‘mau dipanasin nggak supplìnya?’ ‘punya receh (uang koin) nggak?’ dsb. Dan yang paling membanggakan buat saya adalah keberanian saya daftar les biola tanpa ditemani host-parent saya dan paham seutuhnya apa yang disampaikan mbak-mbak administrasinya! Bukan kemajuan pesat sih, tapi saya suka momen ini. Dan yang membuat saya excited juga adalah ketika saya diundang Alessandra, untuk jadi pembicara (haha) di sekolhanya yang sedang mengadakan semacam diskusi bertemakan La Donna Musulmana yang artinya wanita muslimah. Yang mereka tanyakan kepada saya seputar kerudung saya, poligami, beberapa ayat al-qur’an dan keingin-tahuan mereka akan kebebasan remaja, wanita, perempuan Indonesia. Cita-cita kita, pendidikan kita, dan banyak hal lainnya. Dengan bahasa italia yang masih pas-pasan saya sempat juga menjelaskan bahwa Ibu kita, Sri Mulyani Indrawati kini menjadi bagian dari Banka Mondiale a.k.a World Bank. Respon mereka? Terpukau. Begitu juga ketika saya cerita salah satu presiden kita pernah dipegang oleh seorang hawa. Dan akhir dari pengalaman ini saya masuk majalah sekolah di artikel La Donna Sotto il Burqa yang ditulis oleh Alessandra. (: Dari tiga bulan pertama yang jelas saya dapat satu pelajaran bahwa menghargai hal-hal kecil-sesederhana apapun itu-akan membuat proses-prose kehidupan kita yang pada mulanya sulit terasa lebih mudah. Kuncinya satu, bersyukur. keluarga saya sekolah saya; sekolah terkecil yang pernah saya datangiteman-teman sekelas saya konser pertama saya; konser natal bersama orkestra I Pini di Romasay dan sebuah gereja di dekat sekolah sayadi depan sebuah air mancur yang saya lupa namanya di Piazza Navona; salah satu setting film dan buku favorit saya, Angel and Demons. 

la storia di Gea

Ciao a tutti!

well, tanpa basa-basi, saya Gea. Asal Jogja tapi perwakilan dari chaper Semarang. A bunch of luck, setelah menunggu hampir setahun lamanya, saya dapat host-fam di Italia bernama Marsico, yang terdiri dari Papà, Mamma, Alessandra dan kakaknya, Andrea. Another luck, mereka tinggal di ibukota Italia, semua juga tau, mana lagi kalau bukan Roma. Kalau ditanya bagaimana pengalaman di sini, saya perlu berpikir agak penjang. Karena saya tidak mudah menemukan satu kata yang mampu mendeskripsikan seluruh perasaan saya. But, all in all, I sum up this journey as a WONDERFUL experience that priceless and nothing can substitute my life here. Check my more-detail stories below. Happy Reading :D

Di rumah 3 bulan yang lalu saya tidak tau ;
1. Kalau tiap pagi saya harus buka jendela kamar saya.
2. Jika jendela dapur, ruang tv, dan kamar andrea; host-brother saya, kakaknya alessandra dimana komputer yang saya operasikan berada disana, wajib dibuka tidak sampai semua.
3. Caranya mengiris daging dengan garpu di kiri, pisau di kanan secara baik dan benar.
4. Kalau makan pisang, kulitnya musti dicopot semua.
5. Kalau jemuran harus dimasukkan kedalam rumah setelah fare la cucina alias membereskan dapur setelah makan malam

Di sekolah 12 minggu yang telah berlalu, saya ;
1. Belum berani jalan ke kamar mandi sendiri.
2. Masih takut jajan ke La machinetta: food machine. 
3. Irit ngobrol sama teman satu kelas.
4. Tidak paham sa-ma-se-ka-li materi pelajaran yang disampaikan dan topik yang sedang dibicarakan.
5. Selalu bawa dan baca kamus Italia-Indonesia.

Lain-lain di 90 hari yang lampau :
1. Belum berteman baik dengan jalur bus + metro.
2. Belum merasa nyaman dipandang orang dengan tatapan lebih dari dua detik.
3. Belum terbiasa menyapa duluan teman-teman sekelas, sesekolah, seorkestra dan sekursus bahasa inggris.
4. Belum kenal bahasa gaulnya anak Roma.
5. Masih buta harga pizza dkk. 

Dan kini, pelan tapi pasti, banyak poin yang berubah. Sekarang saya;
1. tau sifat, karakter dan apa yang disuka dan yang tidak disuka host family saya. Contohnya, Papá adalah figur ayah dan suami yang luarbiasa sabarnya, mirip Bapak kuranglebih, lalu Mamma tidak mengkonsumsi pasta, kemudian Ale, remaja kritis yang cita-citanya ingin jadi jurnalis, dan Andrea; host-bro saya yang cakep ini tidak suka kacang polong dan timun.
2. Bisa ikut tertawa kalau teman-teman IV G sedang bercanda, sanggup menjawab pertanyaan-pertanyan simpel mengenai topik pelajaran dari prof.ssa Calcagni dan rekan sejawatnya, tidak malu-malu lagi ke kamar mandi ataupun jajan sendirian ke la machinetta.
3. Mulai hafal rute bus dan metro dari rumah ke centro a.k.a lokasi Colosseo + Via del Corso, tau dimana saya bisa cicip masakan indonesia tanpa bayar (baca: Kedubes RI Vatikan), paham toko-toko mana saja yang minta ampun mahalnya, logis harganya sampai yang cukup ramah sama kantong saya andaikata saya perlu beli baju, sepatu dan buku baru. :D
4. Mampu menangkap instruksi konduktor orkestra I Pini di Roma, bisa melakukan komunikasi dua arah dengan tetangga, tidak loading-loading amat kalau ditanya ‘mau dipanasin nggak supplìnya?’ ‘punya receh (uang koin) nggak?’ dsb.

Dan yang paling membanggakan buat saya adalah keberanian saya daftar les biola tanpa ditemani host-parent saya dan paham seutuhnya apa yang disampaikan mbak-mbak administrasinya! Bukan kemajuan pesat sih, tapi saya suka momen ini. Dan yang membuat saya excited juga adalah ketika saya diundang Alessandra, untuk jadi pembicara (haha) di sekolhanya yang sedang mengadakan semacam diskusi bertemakan La Donna Musulmana yang artinya wanita muslimah. Yang mereka tanyakan kepada saya seputar kerudung saya, poligami, beberapa ayat al-qur’an dan keingin-tahuan mereka akan kebebasan remaja, wanita, perempuan Indonesia. Cita-cita kita, pendidikan kita, dan banyak hal lainnya. Dengan bahasa italia yang masih pas-pasan saya sempat juga menjelaskan bahwa Ibu kita, Sri Mulyani Indrawati kini menjadi bagian dari Banka Mondiale a.k.a World Bank. Respon mereka? Terpukau. Begitu juga ketika saya cerita salah satu presiden kita pernah dipegang oleh seorang hawa. Dan akhir dari pengalaman ini saya masuk majalah sekolah di artikel La Donna Sotto il Burqa yang ditulis oleh Alessandra. (:

Dari tiga bulan pertama yang jelas saya dapat satu pelajaran bahwa menghargai hal-hal kecil-sesederhana apapun itu-akan membuat proses-prose kehidupan kita yang pada mulanya sulit terasa lebih mudah. Kuncinya satu, bersyukur. keluarga saya sekolah saya; sekolah terkecil yang pernah saya datangiteman-teman sekelas saya konser pertama saya; konser natal bersama orkestra I Pini di Romasay dan sebuah gereja di dekat sekolah sayadi depan sebuah air mancur yang saya lupa namanya di Piazza Navona; salah satu setting film dan buku favorit saya, Angel and Demons. 

HET IS ALTIJD MIJN EERSTE KEER It’s always my first time Frase di atas emang yang paling tepat menggambarkan 3 bulan pertama dihosting di Belgia, Negara yang cuma segede keset kaki tapi punya 3 bahasa resmi, Belanda, Perancis, dan Jerman. Betapa banyak hal-hal yang baru nan tidak wajar kerap dijumpai. Tapi ini yang bikin aku thankful banget bisa dikasi kesempatan sama Tuhan YME untuk bisa ikutan ngerasain jadi AFS-er. Tanpa panjang lebar lagi,let’s start ‘my First time’ list. 1.     My first time having friends from all over the world. Tepatnya 20 Agustus 2010, 5 days welcome orientation camp di Leuven. Berbagai warna, rupa, budaya, cerita, tingkah, polah, tumpah ruah di camp site La Foresta, walaupun emang didominasi sama ‘geng kaos ijo’ aka Thailand. Selain para Thai yang menonjol, para latinos juga gak kalah mentereng apalagi kalo bukan karena rata-rata pada paham bahasa Spanyol dan tingkahnya yang party-junkie dan tak lupa pria-prianya yang hottie, iya nggak? Anyway, Seperti orcamp pada umumnya, kegiatan ini ditujukan supaya kita bias kenal Belgia baik itu makanannya, udaranya, budayan ya, orang-orangnya, gaya hidupnya, dll. Nah disinilah aq ketemu sama 9, yang sekarang jadi tinggal 8 soalnya satunya udah pulang kampong, muda-mudi yang tergabung dalam Zuper ZUL! ZUL ato yang kalo dipanjangin jadi Zuid of Limburg adalah chapter dimana aku bernaung. 3 bulan pertama ini aku bisa ngerasa deket banget sama Zuper ZUL kemungkinan besar karena factor senasib sepenanggungan, sama-sama stuck di tanah orang selama 10 bulan. 2.     Puasa pertama di negara orang.   Dua kata : Menikmati Ujian. Kalo gak dinikmati, beeuuhhhh bolong kuabeh dah puasanya. Cobaan datang dari berbagai penjuru. Mulai dari aura Ramadhan yang gak ada, waktu puasa yang lebih panjang ampe jam 9 malem, orang laen seenak udel makan minum didepan muka, tapi yang paling berkesan dari puasa pertama di negeri orang ini pas waktu masih di orcamp. Aku bareng nabila sama fauzia kalo sahur mesti jalan negndap-ngendap bak maling ayam keluar kamar, terus dapat kunci vip ke ruang makan, terus makan sahur kenyang-kenyangnya lalu balik lagi dengan style yang sama, maling ayam. Pas buka juga kurang lebih kayak gitu, cuma kalo pas buka stylenya gak maling ayam lagi, style hari merdeka, gegap gempita bahagia setelah nahan lapar dan dahaga ampe jam 9 malem.   3.     My first time having second family.   Keluarga kedua disini bukan Cuma sekedar kiasan, tapi literally my second family, which is the family of Anita Boosten. Mama keduaku ini seorang single fighter di dunia per-orang tua-an. Umurnya emang gak muda lagi, nyaris 50, tapi rock n roll abeessss. Ngefans berat sama Anderlecht, klub bola popular punya Belgia. Aliran musiknya, Guns n Roses, ACDC, Kiss dan sejenisnya. Bahasa ngomongnya juga gahoel punya. Bener-bener bersyukur dah punya host mama yang easy going kayak beliau. Host brothers sama host sister gak kalah easy going nya. Kakak paling tua namanya Bjorn, 26 tahun. Waktu pertama kali aku dateng, dia lagi tugas di Afganistan. Tentara buow! Di bawah Bjorn, ada Joyce, 23 tahun. Pertama kali liat emang kalem, tapi klo udah diputerin lagu Lady Gaga keluar aslinya. Gila, tukang ngakak, senegnya teriak-teriak heboh. Nah yang paling bontot, Jordy, 17 tahun. Waaah jadi inget waktu pertama kali tau bakalan punya host-bro seumuran senengnya bukan kepalang, kan lumayan tiap hari bisa ngeliat yang seger-seger, hehe. Ternyata part yang seger-seger beneran terkabul, untung urusan tampang, gak jelek-jelek amat. Tetapi saudara-saudara, si Jordy ini tipe remaja ala gangster. Senengnya dengerin musik kelas berat sebangsa Slipknot, Metallica, dan bahkan yang lebih edan lagi. Jadi kalo disimpulkan, what a family! Kurang lebih 36 hari pertama bareng keluarga ini aku gak menemukan (dan mudah-mudahan gak akan) problem yang benar-benar berarti. Paling-paling masih kikuk aja harus ajak ngomong duluan apa nggak. Terus kalo yang laen lagi pada ngerjain Household bantuinnya gimana. Ini perlu diomongin apa nggak, kalo iya gimana enaknya. Yaah hal-hal yang menurut aku wajar dialami sama anak yang tiba-tiba aja nongol ditengah-tengah keluarga bahagia ini.   4.     My First time being a student of Technis Institut Sparrendal. Yup, that’s my school for the next couple of months. Sekolah di negara laen, khusunya di Belgia, tentu aja beda. Perbedaan pertama, pilihan jurusannya ,ato istilah belandanya richting, banyak. Secara garis besar dibagi jadi ASO (ini belajarnya banyak exact dan teori), TSO (kurang lebih imbang antara praktek sama teori), KSO (jurusan seni), dan yang terakhir BSO (ini kayak SMK, jadi lebih menjurus dan lebih ke praktek). Nanti di masing-masing richting itu beranak lagi jadi pilihan-pilihan yang lebih khusus. Pertanyaannya, hayooo aku dikelas mana?? Berdasarkan bahwa aku gak butuh nilai apa-apa (bisa juga dibaca: emang gak niat pengen sekolah :D ) dan gak punya darah seni yang kental, maka jadilah aku siswi ke-13 di kelas 6STW. 6 untuk kelas 6 ato setara dengan kelas 3 SMA, dan STW (Social Technisch Wetenschappen) itu turunan dari jurusan TSO. Di kelas ini pelajaran yang mesti diikutin : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Agama, Seni, Labo, Informatika, Sejarah, Olahraga, Ekonomi dan Hukum, Nutrisi, Kelas Sosial, Bahasa Perancis, dan yang jadi favorit baru aku, Kelas Masak! Dimana ada masak, pasti ada maakaaann! :D dan ternyata gak Cuma ada makan, tapi juga ada bersih-bersih dapur. And that’s extremely tiring! Bicara kelas, mesti ngebicarain temen sekelas. Di kelas seperti ada garis hayal yang membagi kelas menjadi dua sayap. Sayap sebelah kiri berisi anak-anak yang ‘gak ada loe gak rame’. Sayap sebelah kanan berisi anak-anak yang kalo gak masuk sekolah gak ada yang tau pelajaran selanjutnya bakalan di kelas mana (moving class ceritanya) alias anak-anak yang menuntut ilmu dengan serius bahkan ada yang terlalu serius. Yaaahh berhubung saya anak baru dengan bahasa belanda terbatas, terduduklah saya di sayap kanan kelas. Pernah sih nyoba duduk di sayap kiri, tapi tetep belom bisa ngimbangin ngobrolnya, belom mudeng. Tetep aja jadinya terduduk membisu. Overall, aku merasa harus bersyukur entah untuk yang keberapa kalinya. Soalnya kalo membandingkan dari cerita temen se-chapter yang laen, temen sekelas ku yang paling bias diajak have fun untuk anak baru 3 bulan. Mereka bener-bener open dan helped me a lot! Walopun untuk bisa gitu, kita gak bisa nunggu mereka untuk datengin kita, kita yang mesti pro aktif ngjak mereka temenan. Tantangan terberat di sekolah ternyata bukan gak mudeng pelajaran ato gak bisa ikutan ngbrol bareng temen sekelas, tapiiii nahan kantuk di jam pelajaran! Asli! Kalo gak bawa nama Negara, udah pules dari jam kedua pelajaran dah! 5.     Mijn eerste keer om Nederland te leren.   Satu kalimat yang tepat menggambarkan momen-momen pembelajaran bahasa belanda : Indonesia memang benar-benar bekas jajahan Belanda! Kenapa? Karena biar itu di rumah, di kelas, di jalan, ato di les bahasa belanda, pasti ngekek tiap ngeliat ato ngedengar kata-kata yang punya arti bahkan beberapa yang tulisannya juga sama dengan bahasa Indonesia. Contohnya : wortel, koelkas, tas, te laat (telat), rok, bekend (populer), daaann masih banyak lagi.   Gimana aku belajar Belandanya? Kalo di kelas, yang bisa dipastikan gak bisa paham pelajarannya, aku baca-baca kamus. Terus ntar kalo nemu kata-kata yang umu dipake (dan hampir bisa dipastikan berujung ngekek ato geleng2 kepala karena lagi2 kata2 indonesia), dicatet di kertas, terus kertasnya dimasukin dompet biar bisa dibawa kemana2. Chapter aku juga ngasi les belanda, dua kali seminggu. Diajarin juga sama temen sekelas, dan aku masih inget banget kalimat pertama yang diajarin sama temen sekelas : Mooi Jongens alias cowok cakep! Hehe.   6.     My first time hang out ala Belgian.   Thanks to my beloved classmates, aku udah deh ngerasain first hang out ala Belgian. Di suatu jumat janjianlah aku dengan temen sekelas untuk makan buffet ala cina, Wok nama restorannya. Huaaahhh asli itu nikmat banget makan waktu itu. Dengan sekian euro (yang tetep aja sih mahal -__-) bisa makan APA AJA SEPUASNYA! Selese makan, poto-poto, beranjaklah aku dengan dua temen untuk siap-siap, istilah belandanya opstap ato kalo diterjemahin nongkrong. Tapi yaaahhh namanya juga ala Belgian, nongkrongnya di café yang musiknya jedak-jeduk terus tentu aja bagi mereka gak afdol kalo gak pake minum tanda kutip. Kalo gak salah inget, itu selese makan sekitar jam stengah10 malem. Aku pikir habis makan langsung menuju café nya itu. Eeehhh ternyata mampir dulu ke rumah temen aku untuk ganti baju. Katanya gak afdol kalo opstap gak dandan dulu terus katanya masih keawalan jam sgini dan normalnya baru pada rame joget-joget lewat tengah malem. Buseeetttt. Apapun demi ngerasain jadi Belgian dijabanin deh. Nyampe de cafenya jam 11an lewat dan benera ja kata mereka cafenya masih sueepiiii dan bner juga lepas tengah malam baru tuh cafe bernyawa. Dan yang bisa aku katakan : i’m not a party person. Belom ada stngah jam udah gak betah. Musiknya sih enak. Bau rokok di blender sma alcohol sma keringet bule-bule itu yang ngerusak beat musiknya. Akhirnya aku putuskan untuk nelpon Joyce minta jenmput pulang. Udah tau, udah cukup.    7.     Dan pertama-pertama lainnya….   Kalo di tulis semuanya apa aja yang pertama-pertama, bisa bisa se tumblr isinya cerita eke semuanya. Yang jelas aku hanya bisa terkagum-kagum betapa banyak hal di dunia ini yang aku gak tau, dan betapa aku sangat bersyukur bisa dikasi kesempatan untuk cari tau dan be a part of it.                                                                                                WarmGroetjes, Ira

HET IS ALTIJD MIJN EERSTE KEER

It’s always my first time

Frase di atas emang yang paling tepat menggambarkan 3 bulan pertama dihosting di Belgia, Negara yang cuma segede keset kaki tapi punya 3 bahasa resmi, Belanda, Perancis, dan Jerman. Betapa banyak hal-hal yang baru nan tidak wajar kerap dijumpai. Tapi ini yang bikin aku thankful banget bisa dikasi kesempatan sama Tuhan YME untuk bisa ikutan ngerasain jadi AFS-er. Tanpa panjang lebar lagi,let’s start ‘my First time’ list.

1.     My first time having friends from all over the world.

Tepatnya 20 Agustus 2010, 5 days welcome orientation camp di Leuven. Berbagai warna, rupa, budaya, cerita, tingkah, polah, tumpah ruah di camp site La Foresta, walaupun emang didominasi sama ‘geng kaos ijo’ aka Thailand. Selain para Thai yang menonjol, para latinos juga gak kalah mentereng apalagi kalo bukan karena rata-rata pada paham bahasa Spanyol dan tingkahnya yang party-junkie dan tak lupa pria-prianya yang hottie, iya nggak?

Anyway, Seperti orcamp pada umumnya, kegiatan ini ditujukan supaya kita bias kenal Belgia baik itu makanannya, udaranya, budayan ya, orang-orangnya, gaya hidupnya, dll. Nah disinilah aq ketemu sama 9, yang sekarang jadi tinggal 8 soalnya satunya udah pulang kampong, muda-mudi yang tergabung dalam Zuper ZUL! ZUL ato yang kalo dipanjangin jadi Zuid of Limburg adalah chapter dimana aku bernaung. 3 bulan pertama ini aku bisa ngerasa deket banget sama Zuper ZUL kemungkinan besar karena factor senasib sepenanggungan, sama-sama stuck di tanah orang selama 10 bulan.


2.     Puasa pertama di negara orang.

 

Dua kata : Menikmati Ujian. Kalo gak dinikmati, beeuuhhhh bolong kuabeh dah puasanya. Cobaan datang dari berbagai penjuru. Mulai dari aura Ramadhan yang gak ada, waktu puasa yang lebih panjang ampe jam 9 malem, orang laen seenak udel makan minum didepan muka, tapi yang paling berkesan dari puasa pertama di negeri orang ini pas waktu masih di orcamp. Aku bareng nabila sama fauzia kalo sahur mesti jalan negndap-ngendap bak maling ayam keluar kamar, terus dapat kunci vip ke ruang makan, terus makan sahur kenyang-kenyangnya lalu balik lagi dengan style yang sama, maling ayam. Pas buka juga kurang lebih kayak gitu, cuma kalo pas buka stylenya gak maling ayam lagi, style hari merdeka, gegap gempita bahagia setelah nahan lapar dan dahaga ampe jam 9 malem.

 

3.     My first time having second family.

 

Keluarga kedua disini bukan Cuma sekedar kiasan, tapi literally my second family, which is the family of Anita Boosten. Mama keduaku ini seorang single fighter di dunia per-orang tua-an. Umurnya emang gak muda lagi, nyaris 50, tapi rock n roll abeessss. Ngefans berat sama Anderlecht, klub bola popular punya Belgia. Aliran musiknya, Guns n Roses, ACDC, Kiss dan sejenisnya. Bahasa ngomongnya juga gahoel punya. Bener-bener bersyukur dah punya host mama yang easy going kayak beliau. Host brothers sama host sister gak kalah easy going nya. Kakak paling tua namanya Bjorn, 26 tahun. Waktu pertama kali aku dateng, dia lagi tugas di Afganistan. Tentara buow! Di bawah Bjorn, ada Joyce, 23 tahun. Pertama kali liat emang kalem, tapi klo udah diputerin lagu Lady Gaga keluar aslinya. Gila, tukang ngakak, senegnya teriak-teriak heboh. Nah yang paling bontot, Jordy, 17 tahun. Waaah jadi inget waktu pertama kali tau bakalan punya host-bro seumuran senengnya bukan kepalang, kan lumayan tiap hari bisa ngeliat yang seger-seger, hehe. Ternyata part yang seger-seger beneran terkabul, untung urusan tampang, gak jelek-jelek amat. Tetapi saudara-saudara, si Jordy ini tipe remaja ala gangster. Senengnya dengerin musik kelas berat sebangsa Slipknot, Metallica, dan bahkan yang lebih edan lagi. Jadi kalo disimpulkan, what a family!


Kurang lebih 36 hari pertama bareng keluarga ini aku gak menemukan (dan mudah-mudahan gak akan) problem yang benar-benar berarti. Paling-paling masih kikuk aja harus ajak ngomong duluan apa nggak. Terus kalo yang laen lagi pada ngerjain Household bantuinnya gimana. Ini perlu diomongin apa nggak, kalo iya gimana enaknya. Yaah hal-hal yang menurut aku wajar dialami sama anak yang tiba-tiba aja nongol ditengah-tengah keluarga bahagia ini.

 

4.     My First time being a student of Technis Institut Sparrendal.

Yup, that’s my school for the next couple of months. Sekolah di negara laen, khusunya di Belgia, tentu aja beda. Perbedaan pertama, pilihan jurusannya ,ato istilah belandanya richting, banyak. Secara garis besar dibagi jadi ASO (ini belajarnya banyak exact dan teori), TSO (kurang lebih imbang antara praktek sama teori), KSO (jurusan seni), dan yang terakhir BSO (ini kayak SMK, jadi lebih menjurus dan lebih ke praktek). Nanti di masing-masing richting itu beranak lagi jadi pilihan-pilihan yang lebih khusus.

Pertanyaannya, hayooo aku dikelas mana?? Berdasarkan bahwa aku gak butuh nilai apa-apa (bisa juga dibaca: emang gak niat pengen sekolah :D ) dan gak punya darah seni yang kental, maka jadilah aku siswi ke-13 di kelas 6STW. 6 untuk kelas 6 ato setara dengan kelas 3 SMA, dan STW (Social Technisch Wetenschappen) itu turunan dari jurusan TSO. Di kelas ini pelajaran yang mesti diikutin : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Agama, Seni, Labo, Informatika, Sejarah, Olahraga, Ekonomi dan Hukum, Nutrisi, Kelas Sosial, Bahasa Perancis, dan yang jadi favorit baru aku, Kelas Masak! Dimana ada masak, pasti ada maakaaann! :D dan ternyata gak Cuma ada makan, tapi juga ada bersih-bersih dapur. And that’s extremely tiring!

Bicara kelas, mesti ngebicarain temen sekelas. Di kelas seperti ada garis hayal yang membagi kelas menjadi dua sayap. Sayap sebelah kiri berisi anak-anak yang ‘gak ada loe gak rame’. Sayap sebelah kanan berisi anak-anak yang kalo gak masuk sekolah gak ada yang tau pelajaran selanjutnya bakalan di kelas mana (moving class ceritanya) alias anak-anak yang menuntut ilmu dengan serius bahkan ada yang terlalu serius. Yaaahh berhubung saya anak baru dengan bahasa belanda terbatas, terduduklah saya di sayap kanan kelas. Pernah sih nyoba duduk di sayap kiri, tapi tetep belom bisa ngimbangin ngobrolnya, belom mudeng. Tetep aja jadinya terduduk membisu. Overall, aku merasa harus bersyukur entah untuk yang keberapa kalinya. Soalnya kalo membandingkan dari cerita temen se-chapter yang laen, temen sekelas ku yang paling bias diajak have fun untuk anak baru 3 bulan. Mereka bener-bener open dan helped me a lot! Walopun untuk bisa gitu, kita gak bisa nunggu mereka untuk datengin kita, kita yang mesti pro aktif ngjak mereka temenan.

Tantangan terberat di sekolah ternyata bukan gak mudeng pelajaran ato gak bisa ikutan ngbrol bareng temen sekelas, tapiiii nahan kantuk di jam pelajaran! Asli! Kalo gak bawa nama Negara, udah pules dari jam kedua pelajaran dah!

5.     Mijn eerste keer om Nederland te leren.

 

Satu kalimat yang tepat menggambarkan momen-momen pembelajaran bahasa belanda : Indonesia memang benar-benar bekas jajahan Belanda! Kenapa? Karena biar itu di rumah, di kelas, di jalan, ato di les bahasa belanda, pasti ngekek tiap ngeliat ato ngedengar kata-kata yang punya arti bahkan beberapa yang tulisannya juga sama dengan bahasa Indonesia. Contohnya : wortel, koelkas, tas, te laat (telat), rok, bekend (populer), daaann masih banyak lagi.

 

Gimana aku belajar Belandanya? Kalo di kelas, yang bisa dipastikan gak bisa paham pelajarannya, aku baca-baca kamus. Terus ntar kalo nemu kata-kata yang umu dipake (dan hampir bisa dipastikan berujung ngekek ato geleng2 kepala karena lagi2 kata2 indonesia), dicatet di kertas, terus kertasnya dimasukin dompet biar bisa dibawa kemana2. Chapter aku juga ngasi les belanda, dua kali seminggu. Diajarin juga sama temen sekelas, dan aku masih inget banget kalimat pertama yang diajarin sama temen sekelas : Mooi Jongens alias cowok cakep! Hehe.

 

6.     My first time hang out ala Belgian.

 

Thanks to my beloved classmates, aku udah deh ngerasain first hang out ala Belgian. Di suatu jumat janjianlah aku dengan temen sekelas untuk makan buffet ala cina, Wok nama restorannya. Huaaahhh asli itu nikmat banget makan waktu itu. Dengan sekian euro (yang tetep aja sih mahal -__-) bisa makan APA AJA SEPUASNYA! Selese makan, poto-poto, beranjaklah aku dengan dua temen untuk siap-siap, istilah belandanya opstap ato kalo diterjemahin nongkrong. Tapi yaaahhh namanya juga ala Belgian, nongkrongnya di café yang musiknya jedak-jeduk terus tentu aja bagi mereka gak afdol kalo gak pake minum tanda kutip. Kalo gak salah inget, itu selese makan sekitar jam stengah10 malem. Aku pikir habis makan langsung menuju café nya itu. Eeehhh ternyata mampir dulu ke rumah temen aku untuk ganti baju. Katanya gak afdol kalo opstap gak dandan dulu terus katanya masih keawalan jam sgini dan normalnya baru pada rame joget-joget lewat tengah malem. Buseeetttt. Apapun demi ngerasain jadi Belgian dijabanin deh. Nyampe de cafenya jam 11an lewat dan benera ja kata mereka cafenya masih sueepiiii dan bner juga lepas tengah malam baru tuh cafe bernyawa. Dan yang bisa aku katakan : i’m not a party person. Belom ada stngah jam udah gak betah. Musiknya sih enak. Bau rokok di blender sma alcohol sma keringet bule-bule itu yang ngerusak beat musiknya. Akhirnya aku putuskan untuk nelpon Joyce minta jenmput pulang. Udah tau, udah cukup. 

 

7.     Dan pertama-pertama lainnya….

 

Kalo di tulis semuanya apa aja yang pertama-pertama, bisa bisa se tumblr isinya cerita eke semuanya. Yang jelas aku hanya bisa terkagum-kagum betapa banyak hal di dunia ini yang aku gak tau, dan betapa aku sangat bersyukur bisa dikasi kesempatan untuk cari tau dan be a part of it.

                                                                                               WarmGroetjes, Ira


La Vita Nuova, kehidupan baru di Italia. Langsung aja, namaku Radhea Permata Dewi. Aku merupakan salah satu peserta program AFS di Italia. Aku tinggal di kota Cesena yang terletak di region Emilia-Romagna, kurang lebih 1 jam dari kota Bologna dan 2 jam dari kota Venesia. Aku mempunyai saudara angkat yang bernama Lorenzo, ibu yang bernama Angela dan bapak yang bernama Paolo. Kami tinggal di sebuah apartemen di pusat kota. Aku dan Lorenzo Fiori kiri ke kanan : Angela, aku, Paolo Aku masuk sekolah eksak (Liceo Scientifico) kelas 3CB. CB di sini artinya Bilinguismo (belajar pelajaran IPA dan 2 bahasa asing, yakni Inggris dan Spanyol). Tapi aku lebih memilih belajar Bahasa Jerman, jadi aku ‘moving class’ di jam tertentu buat belajar Bahasa Jerman di kelas lain. Setiap hari kami belajar dari pukul 08.10 sampai pukul 13.10, dari Senin sampai Sabtu. Aku pergi ke sekolah naik sepeda, tapi karena musim dingin sekarang lebih sering naik bus nomor 3. Bus Nomor 3 Kiri ke kanan : Alessandro Fiori, aku, Giulia Russato, Carolina Salsi, Federica Bertozzi di kelas 3CB Di chapter lokal Cesena juga ada empat murid AFS lain, tiga di antaranya bersekolah di sekolah eksak sama seperti aku. Setiap kamis sore kami ikutan kursus bahasa Italia di sebuah gedung di dekat supermarket. Searah jarum jam : Kristiana (Lettonia), Eyrun (Islandia), Aku, Lorenzo (pemain), Lorin (Belgia), Anna (Jerman), Cewek 1 (pemain), Cewek 2 (pemain) dalam sebuah pertunjukan di kota Sant’Arcangelo. Aku ikut latihan futsal perempuan (calcetto) di sebuah sekolah sepak bola yang bernama Fiorenzuola dekat rumah kami, setiap rabu malam. Di Italia, sekolah sepak bola di setiap kota puluhan (bahkan ratusan di kota besar seperti Milan). Kesebelasan di setiap kota berlaga di Serie A, Serie B, atau Serie C. Musim ini, tim sepak bola kota Cesena (A.C. Cesena) berlaga di Serie A. Polisportiva Fiorenzuola, di mana terdapat sekolah sepak bola Setiap sabtu sore, biasanya aku pergi ke pusat kota (centro) sekedar jalan-jalan atau cuci mata, anak-anak sini hobinya mejeng. Sabtu malam ke bioskop, ke konser, atau nonton film di rumah teman, atau enggak ngapa-ngapain alias tidur santai di rumah. Bioskop favoritku Pengalaman baru di empat bulan pertama. Hmmmm… Sekitar 2 bulan yang lalu aku pegi ke Roma bersama remaja Katolik Case Finali dalam rangka acara kepemudaan Katolik (giovanissimi) ACR di Vatikan. Kami berada di alun-alun Vatikan yang megah dari pagi sampai sore bersama sekitar 80.000 remaja lain dari seluruh Italia, menonton konser dan lagu-lagu, dan aku berjumpa il Papa (Paus) buat pertama kali! Sore harinya, kami melakukan parade dari Vatikan ke Piazza del Popolo Roma. Dan keesokan harinya kami tiba di Cesena dengan naik bus. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Aku sebagai peserta ACR di Vatikan Pengalaman yang berkesan yakni aku, teman-teman sekelasku, dan guru filsafat kami Professoressa (sebutan untuk Profesor wanita) Bandini mengikuti la manifestazione (unjuk rasa) anti rasisme sepanjang kota Cesena. Sebenarnya hari itu kami harus belajar di kelas seperti biasa, namun semua memutuskan libur (giustifica) untuk menghargaiku yang merupakan murid asing di kelas. Makasih teman-teman. Searah jarum jam : Valentina Ventre, aku, Giada Alessandrini, Beatrice Guerrino, Lucrezia Galbucci, Valentina Iozzi, Giada Ravaioli saat la manifestazione Kalau ditanya, kegiatan apa yang paling aku sukai dan cukup sering kulakukan, jawabannya pesta (la festa). Dari hari pertama sampai hari ini, enggak terhitung jumlah pesta yang sudah aku lakukan. Sebenarnya kegiatan ‘la festa’ di sini sederhana aja. Makan-makan, ngobrol, main kartu, dan … having fun :D Pesta AFS, bersama alumni AFS terdahulu, dan keluarga-keluarga angkat. Searah jarum jam : Francisco, Eyrun, Lorenzo, aku, Daniela, Lorin, Giada, Anna, Aria , Kristiana. Kota menarik yang sudah kudatangi yakni Roma, Florensia, Ferrara, Forli dan Urbino. Yang paling kusukai ? Florensiaaaaa. Florensia merupakan kota dengan karya seni terbanyak kedua setelah Roma di Italia. Kami pergi ke Galerria degli Uffizi dan melihat karya-karya seni abad pertengahan seperti ‘La Primavera’ (ingl : The Spring) dan ‘La nascita di Venere’ (ingl : The birth of Venus) nya Sandro Botticelli, ‘La Battaglia di San Romano’ (ingl : The battles of the Roman) nya Paolo Ucello, patung David nya Donatello, karya-karya Leonardo da Vinci, Giotto, Piero della Francesca, patung Dante Aliegheri, dan Ponte Vecchio (jembatan tua) yang juga dikunjungi Andrea Hirata dalam novel Edensor J  Aku dan Ponte Vecchio Tambah gendut selama 4 bulan ini? Iya :D Dingin di sana ? Iya :D Bahasa Italia sudah lancar? Lumayan :D Apa rencana 6 bulan ke depan ? Try to be better and do the best! Mau pulang ke Indonesia sekarang? Enggak, enggak sekarang. xD Apa target 6 bulan ke depan ? Paham cerita “La Divina Commedia” nya Dante Alighieri sebelum pulang dan lancar berbahasa Jerman (loh?!) Sekian dan buon anno! (selamat tahun baru) xD Radhea Permata Dewi Chapter Banjarmasin

La Vita Nuova, kehidupan baru di Italia.

Langsung aja, namaku Radhea Permata Dewi. Aku merupakan salah satu peserta program AFS di Italia. Aku tinggal di kota Cesena yang terletak di region Emilia-Romagna, kurang lebih 1 jam dari kota Bologna dan 2 jam dari kota Venesia. Aku mempunyai saudara angkat yang bernama Lorenzo, ibu yang bernama Angela dan bapak yang bernama Paolo. Kami tinggal di sebuah apartemen di pusat kota.

Aku dan Lorenzo Fiori

kiri ke kanan : Angela, aku, Paolo

Aku masuk sekolah eksak (Liceo Scientifico) kelas 3CB. CB di sini artinya Bilinguismo (belajar pelajaran IPA dan 2 bahasa asing, yakni Inggris dan Spanyol). Tapi aku lebih memilih belajar Bahasa Jerman, jadi aku ‘moving class’ di jam tertentu buat belajar Bahasa Jerman di kelas lain. Setiap hari kami belajar dari pukul 08.10 sampai pukul 13.10, dari Senin sampai Sabtu. Aku pergi ke sekolah naik sepeda, tapi karena musim dingin sekarang lebih sering naik bus nomor 3.

Bus Nomor 3

Kiri ke kanan : Alessandro Fiori, aku, Giulia Russato, Carolina Salsi, Federica Bertozzi di kelas 3CB

Di chapter lokal Cesena juga ada empat murid AFS lain, tiga di antaranya bersekolah di sekolah eksak sama seperti aku. Setiap kamis sore kami ikutan kursus bahasa Italia di sebuah gedung di dekat supermarket.

Searah jarum jam : Kristiana (Lettonia), Eyrun (Islandia), Aku, Lorenzo (pemain), Lorin (Belgia), Anna (Jerman), Cewek 1 (pemain), Cewek 2 (pemain) dalam sebuah pertunjukan di kota Sant’Arcangelo.

Aku ikut latihan futsal perempuan (calcetto) di sebuah sekolah sepak bola yang bernama Fiorenzuola dekat rumah kami, setiap rabu malam. Di Italia, sekolah sepak bola di setiap kota puluhan (bahkan ratusan di kota besar seperti Milan). Kesebelasan di setiap kota berlaga di Serie A, Serie B, atau Serie C. Musim ini, tim sepak bola kota Cesena (A.C. Cesena) berlaga di Serie A.

Polisportiva Fiorenzuola, di mana terdapat sekolah sepak bola

Setiap sabtu sore, biasanya aku pergi ke pusat kota (centro) sekedar jalan-jalan atau cuci mata, anak-anak sini hobinya mejeng. Sabtu malam ke bioskop, ke konser, atau nonton film di rumah teman, atau enggak ngapa-ngapain alias tidur santai di rumah.

Bioskop favoritku

Pengalaman baru di empat bulan pertama. Hmmmm… Sekitar 2 bulan yang lalu aku pegi ke Roma bersama remaja Katolik Case Finali dalam rangka acara kepemudaan Katolik (giovanissimi) ACR di Vatikan. Kami berada di alun-alun Vatikan yang megah dari pagi sampai sore bersama sekitar 80.000 remaja lain dari seluruh Italia, menonton konser dan lagu-lagu, dan aku berjumpa il Papa (Paus) buat pertama kali! Sore harinya, kami melakukan parade dari Vatikan ke Piazza del Popolo Roma. Dan keesokan harinya kami tiba di Cesena dengan naik bus. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

Aku sebagai peserta ACR di Vatikan

Pengalaman yang berkesan yakni aku, teman-teman sekelasku, dan guru filsafat kami Professoressa (sebutan untuk Profesor wanita) Bandini mengikuti la manifestazione (unjuk rasa) anti rasisme sepanjang kota Cesena. Sebenarnya hari itu kami harus belajar di kelas seperti biasa, namun semua memutuskan libur (giustifica) untuk menghargaiku yang merupakan murid asing di kelas. Makasih teman-teman.

Searah jarum jam : Valentina Ventre, aku, Giada Alessandrini, Beatrice Guerrino, Lucrezia Galbucci, Valentina Iozzi, Giada Ravaioli saat la manifestazione

Kalau ditanya, kegiatan apa yang paling aku sukai dan cukup sering kulakukan, jawabannya pesta (la festa). Dari hari pertama sampai hari ini, enggak terhitung jumlah pesta yang sudah aku lakukan. Sebenarnya kegiatan ‘la festa’ di sini sederhana aja. Makan-makan, ngobrol, main kartu, dan … having fun :D

Pesta AFS, bersama alumni AFS terdahulu, dan keluarga-keluarga angkat. Searah jarum jam : Francisco, Eyrun, Lorenzo, aku, Daniela, Lorin, Giada, Anna, Aria , Kristiana.

Kota menarik yang sudah kudatangi yakni Roma, Florensia, Ferrara, Forli dan Urbino. Yang paling kusukai ? Florensiaaaaa. Florensia merupakan kota dengan karya seni terbanyak kedua setelah Roma di Italia. Kami pergi ke Galerria degli Uffizi dan melihat karya-karya seni abad pertengahan seperti ‘La Primavera’ (ingl : The Spring) dan ‘La nascita di Venere’ (ingl : The birth of Venus) nya Sandro Botticelli, ‘La Battaglia di San Romano’ (ingl : The battles of the Roman) nya Paolo Ucello, patung David nya Donatello, karya-karya Leonardo da Vinci, Giotto, Piero della Francesca, patung Dante Aliegheri, dan Ponte Vecchio (jembatan tua) yang juga dikunjungi Andrea Hirata dalam novel Edensor J

 Aku dan Ponte Vecchio

Tambah gendut selama 4 bulan ini? Iya :D

Dingin di sana ? Iya :D

Bahasa Italia sudah lancar? Lumayan :D

Apa rencana 6 bulan ke depan ? Try to be better and do the best!

Mau pulang ke Indonesia sekarang? Enggak, enggak sekarang. xD

Apa target 6 bulan ke depan ? Paham cerita “La Divina Commedia” nya Dante Alighieri sebelum pulang dan lancar berbahasa Jerman (loh?!)

Sekian dan buon anno! (selamat tahun baru) xD

Radhea Permata Dewi

Chapter Banjarmasin

Ciao Italy! Assalamualaikum, ciao a tutti! ;D   Hallo hallo dan hallo semua! Nama saya Avanti Sukmalanu perwakilan dari kota Bekasi, Chapter Karawang. Alhamdulillah saya di tempatkan di Pellaro, Reggio Calabria, Italy atau terkenal juga sebagai kota paling panas di Italy, which is a big advantage for me, karna saya tidak suka tempat yg dingin + pinggir pantai loh! Saya menetap bersama keluarga besar Caccamo yang terdiri dari host dad (Piero Caccamo), host mom (Caterina), dan dua kakak beradik perempuan (Alessia, Gaia) yang masing masing umurnya beda satu tahun dengan saya (18 &16). Dari awal sebelum saya tiba di Italy beberapa orang yang kenal bahasa Italy sudah memperingatkan saya akan nama saya “Avanti” yg dalam bahasa Italy sering sekali digunakan. Namun ternyata…susah juga yaa membiasakan untuk tidak nengok ato kaget waktu guru atau teman menyebut kata “avanti” di kelas, luar rumah, maupun dirumah. Well, I hope I’ll get used to it before I get back…   Selama 3 bulan ini saya dan kerabat AFS dari belahan dunia lain belajar sedikit demi sedikit untuk lebih mencitai negara masing-masing, lebih dari yang apa kita bias rasakan sebelumnnya. Sudut pandang kami yang berbeda yang awalnya kami paksakan, lama lama jadi pengetahuan tersendiri yang kami sadari setelah beberapa bulan ini menetap di Italy. Kami 6 bocah yang berasal dari setiap sudut di dunia tiba-tiba ditempatkan bersama di satu tempat dimana kami harus bergantung dengan satu sama lain kini bisa lebih jelas melihat dunia dan negara sendiri dari sisi yang kami tidak pernah akan tahu tanpa pengalaman ini. Seberapaba banyak hal yang kami tidak ketahui selama ini bias diketahui dalam waktu singkat. Waktu sampai disini saya sering sekali mendapat pertanyaan dari teman kelas atau siapaun; kenapa ikut AFS? Ngak takut jauh sama keluarga?; well jawaban saya adalah, ini pengalaman sekali seumur hidup yang sampai nanti saya punya cucu pastinya ngak akan bisa dilupakan begitu saja. Just like AFS moto; “Listen to the world and be listen by the world” , saya ingin melihat dunia lebih dari apa yang saya sudah ketahui dan membiarkan dunia tahu tentang keberadaan saya. Sampai saat ini, saya sangat bersyukur untuk bias mengikuti program AFS, bener benerrrrrrr bersyukur ke Allah yang sudah memberikan kesepmtana yang amat membahagiakan ini, orang tua saya yang sudah menyemangati saya dan melepas saya untuk 10 bulan ini, ke semua volunteer AFS Indonesia dan Italy yang sudah membantu saya, dan tentunya semua teman saya yang amat saya rindukan, dan tentunya saya amat berterimakasih ke dunia yang sangat unik ini.   3 bulan itu singkat, tapi banyak sekali pengalaman dari hal-hal yang amat sangat kecil dan bahkan hal yang amat besar yg NL ini tidak cukup untuk menjadi media cerita saya. Rasa takut, senang, bahagia sampai pengen nangis, penasaran, gedeg, semuanya dicampur jadi satu. 3 bulan ini saya juga belajar kalau dimanapun itu, murid ya tetap saja murid. Walaupun bahasa kami, sifat dan pelajaran kami berbeda, jalan pemikiran kami ngak jauh berbeda. Saya pun ikut kaget pertama saat menyadari kesamaan itu, saat itu juga satu hal yang terpintas di otak saya; “hahaa, berasa balik sama XI-IPA3 J. I’m still home.. your new home…”. Sampai saat ini teman kelas dan orang sekitar masih amat penasaran dengan Indonesia. Awalnya sedih kalo bilang Indonesia ngak ada yang kenal, eehhhh ternyata, pas ngoceh Bali pada tau (errrrrrr), dan hebohnya lagi kalo ngobrol sama sesama murid pasti nanya soal liburan musim panas (jeng jeng!) ; “we don’t have summer vocation. Dry season and Rainy season is all we have” well that’s all I can say, dan reaksi mereka adalahhhh  “I’m so lucky my country have summer” hahaha well, sunny all year long is not that bad tauu. Dan tentunya, 3 bulan awal ini, saya belajar untuk menerima budaya baru   Ini foto saya dan Alessia - Host Father saya Pireo – Host Mother saya Catia, dan tentunya saya di Taormina, salah satu kota tercantik di Sicilia. The long street of old city up in the mountain, mammamia che bello.   Ini foto dari Camp awal di Catania sama anak AFS Sicilia – Reggio. I was having a blastful fun days there! Butuh satu hari untuk saya menyadarkan diri kalau dalam satu hotel itu isinya datang dari semua penjuru dunia. Ngak peduli dari Western atau Europa atau Asia, semua campur main bareng jadi satu, “Why can’t we all live in peace like now?” is always on my mind. Dan tentunya dapet temen baru lagi dari daerah lain di dunia yay!   Ini foto waktu ke Bova. Ada acara Wine Vestival yang setiap tahun diadakan di Bova yang terletak di puncak gunung. Bayangkan Kota Tua tapi ada di atas gunung, yup, it’s like that.   Ini sekitar perpindahan musim panas ke musim kemarau. Karena Reggio letaknya dihimpit pulau sicilia kita bisa liat The Great Mount (Volcano) Etna dari sini (psttt, masih aktif loh Etna). Karna amar saya di lantai empat, tiap sore lari ke luar kamar bawa kamera jadi habit untuk ambil foto Etna. Kadang ngingetin saya sama Gunung Merapi, walaupun jarang liat Merapi.   Yang ini mahakarya saya dengan sahabat kecil saya Emilie dari Belgia, our AFS T-Shirt of love. Sayangnya dia hanya ikut serta AFS untuk 3 bulan dan sudah kembali ke negaranya terlebih dahulu :( but hey, we still have the future where we could meet again :) ahah! perkenalkan keluarga besar AFS Reggio Calabria :D Last but not least! Meet my school palls 4A !! haha, ini kelas dengan jumlah murid paling sedikit (15) tapi kalo sekalinya heboh ngak jauh beda sama anak sekolahan di Indonesia. Beberapa hari sebelom natal mereka bikin pesta kecil kecilan a.k.a welcoming party buat saya awwww aren’t they sweet :) Well, that’s it for this past few month ~ ciao a tutti, ci vediamo tra pocco !

Ciao Italy!

Assalamualaikum, ciao a tutti! ;D

 

Hallo hallo dan hallo semua! Nama saya Avanti Sukmalanu perwakilan dari kota Bekasi, Chapter Karawang. Alhamdulillah saya di tempatkan di Pellaro, Reggio Calabria, Italy atau terkenal juga sebagai kota paling panas di Italy, which is a big advantage for me, karna saya tidak suka tempat yg dingin + pinggir pantai loh! Saya menetap bersama keluarga besar Caccamo yang terdiri dari host dad (Piero Caccamo), host mom (Caterina), dan dua kakak beradik perempuan (Alessia, Gaia) yang masing masing umurnya beda satu tahun dengan saya (18 &16). Dari awal sebelum saya tiba di Italy beberapa orang yang kenal bahasa Italy sudah memperingatkan saya akan nama saya “Avanti” yg dalam bahasa Italy sering sekali digunakan. Namun ternyata…susah juga yaa membiasakan untuk tidak nengok ato kaget waktu guru atau teman menyebut kata “avanti” di kelas, luar rumah, maupun dirumah. Well, I hope I’ll get used to it before I get back…

 

Selama 3 bulan ini saya dan kerabat AFS dari belahan dunia lain belajar sedikit demi sedikit untuk lebih mencitai negara masing-masing, lebih dari yang apa kita bias rasakan sebelumnnya. Sudut pandang kami yang berbeda yang awalnya kami paksakan, lama lama jadi pengetahuan tersendiri yang kami sadari setelah beberapa bulan ini menetap di Italy. Kami 6 bocah yang berasal dari setiap sudut di dunia tiba-tiba ditempatkan bersama di satu tempat dimana kami harus bergantung dengan satu sama lain kini bisa lebih jelas melihat dunia dan negara sendiri dari sisi yang kami tidak pernah akan tahu tanpa pengalaman ini. Seberapaba banyak hal yang kami tidak ketahui selama ini bias diketahui dalam waktu singkat. Waktu sampai disini saya sering sekali mendapat pertanyaan dari teman kelas atau siapaun; kenapa ikut AFS? Ngak takut jauh sama keluarga?; well jawaban saya adalah, ini pengalaman sekali seumur hidup yang sampai nanti saya punya cucu pastinya ngak akan bisa dilupakan begitu saja. Just like AFS moto; “Listen to the world and be listen by the world” , saya ingin melihat dunia lebih dari apa yang saya sudah ketahui dan membiarkan dunia tahu tentang keberadaan saya. Sampai saat ini, saya sangat bersyukur untuk bias mengikuti program AFS, bener benerrrrrrr bersyukur ke Allah yang sudah memberikan kesepmtana yang amat membahagiakan ini, orang tua saya yang sudah menyemangati saya dan melepas saya untuk 10 bulan ini, ke semua volunteer AFS Indonesia dan Italy yang sudah membantu saya, dan tentunya semua teman saya yang amat saya rindukan, dan tentunya saya amat berterimakasih ke dunia yang sangat unik ini.

 

3 bulan itu singkat, tapi banyak sekali pengalaman dari hal-hal yang amat sangat kecil dan bahkan hal yang amat besar yg NL ini tidak cukup untuk menjadi media cerita saya. Rasa takut, senang, bahagia sampai pengen nangis, penasaran, gedeg, semuanya dicampur jadi satu. 3 bulan ini saya juga belajar kalau dimanapun itu, murid ya tetap saja murid. Walaupun bahasa kami, sifat dan pelajaran kami berbeda, jalan pemikiran kami ngak jauh berbeda. Saya pun ikut kaget pertama saat menyadari kesamaan itu, saat itu juga satu hal yang terpintas di otak saya; “hahaa, berasa balik sama XI-IPA3 J. I’m still home.. your new home…”. Sampai saat ini teman kelas dan orang sekitar masih amat penasaran dengan Indonesia. Awalnya sedih kalo bilang Indonesia ngak ada yang kenal, eehhhh ternyata, pas ngoceh Bali pada tau (errrrrrr), dan hebohnya lagi kalo ngobrol sama sesama murid pasti nanya soal liburan musim panas (jeng jeng!) ; “we don’t have summer vocation. Dry season and Rainy season is all we have” well that’s all I can say, dan reaksi mereka adalahhhh  “I’m so lucky my country have summer” hahaha well, sunny all year long is not that bad tauu. Dan tentunya, 3 bulan awal ini, saya belajar untuk menerima budaya baru

 

Ini foto saya dan Alessia - Host Father saya Pireo – Host Mother saya Catia, dan tentunya saya di Taormina, salah satu kota tercantik di Sicilia. The long street of old city up in the mountain, mammamia che bello.

 

Ini foto dari Camp awal di Catania sama anak AFS Sicilia – Reggio. I was having a blastful fun days there! Butuh satu hari untuk saya menyadarkan diri kalau dalam satu hotel itu isinya datang dari semua penjuru dunia. Ngak peduli dari Western atau Europa atau Asia, semua campur main bareng jadi satu, “Why can’t we all live in peace like now?” is always on my mind. Dan tentunya dapet temen baru lagi dari daerah lain di dunia yay!

 

Ini foto waktu ke Bova. Ada acara Wine Vestival yang setiap tahun diadakan di Bova yang terletak di puncak gunung. Bayangkan Kota Tua tapi ada di atas gunung, yup, it’s like that.

 

Ini sekitar perpindahan musim panas ke musim kemarau. Karena Reggio letaknya dihimpit pulau sicilia kita bisa liat The Great Mount (Volcano) Etna dari sini (psttt, masih aktif loh Etna). Karna amar saya di lantai empat, tiap sore lari ke luar kamar bawa kamera jadi habit untuk ambil foto Etna. Kadang ngingetin saya sama Gunung Merapi, walaupun jarang liat Merapi.

 

Yang ini mahakarya saya dengan sahabat kecil saya Emilie dari Belgia, our AFS T-Shirt of love. Sayangnya dia hanya ikut serta AFS untuk 3 bulan dan sudah kembali ke negaranya terlebih dahulu :( but hey, we still have the future where we could meet again :)

ahah! perkenalkan keluarga besar AFS Reggio Calabria :D

Last but not least! Meet my school palls 4A !! haha, ini kelas dengan jumlah murid paling sedikit (15) tapi kalo sekalinya heboh ngak jauh beda sama anak sekolahan di Indonesia. Beberapa hari sebelom natal mereka bikin pesta kecil kecilan a.k.a welcoming party buat saya awwww aren’t they sweet :)

Well, that’s it for this past few month ~ ciao a tutti, ci vediamo tra pocco !

Living in “the Sims” World Dear everyone, How’s everything going? I hope you guys are doing fine. Saya akan cerita tentang 3 bulan pertama saya, di sini…… Di dunia The Sims. September 2010 akhirnya saya sampai ke Amerika. Yup, just like what I always dream of - get myself OUT of the jammed Jakarta, sambil bawa misi perdamaian dunia. Wussssss. Setelah hours of flight, ketemu Gana Adi saat transit di Tokyo (sungguh mengharukan), ditahan imigrasi di Minneapolis, I finally arrived in Chicago on August 29. I stayed for 3 days for AFS orientation. It was fun, and turned out I was so lucky. It’s far away from where I live now and I don’t think i’m going to have a chance to visit Chicago again. (Caption: Chicago!!!!!) Dari Chicago, saya terbang ke Ronald Reagan Airport, Washington D.C. Turned out I am going to live in Arlington, Virginia. Arlington dan Washington DC dipisahkan sama Potomac River. Dari rumah saya ke White House makan waktu kira-kira 20 menit naik Metro (subway nya Metropolitan Area Washington DC).  Arlington is physically small - it is one of the smallest county in the U.S, but it is highly populated. Since it’s so close to DC, lots of people in Arlington work for the Federal Government. Di sini asri banget (well, I really couldn’t find any better word for this). Lingkungannya enak untuk jalan kaki, aman, tentram, damai. Banya lapangan terbuka. Bahkan di depan rumah saya masih ada semacam hutan kota yang rural gitu, dan seringkali ada Rusa yang lewat-lewat. Tapi yang selalu banyak dan ada dimana-mana, yang pasti Squirrel. Hahaha. (Caption : Fall in Arlington!) Washington DC sendiri kotanya sangat formal. Mungkin jadi terlihat kaku dan “keras” karena banyak kantor federal government. Di sini juga ngga banyak gedung-gedung tinggi seperti yang saya lihat di Chicago. Gedung-gedung di sini ngga boleh ada yang lebih tinggi dari Washington National Monument. Yang paling seru dari Washington DC menurut saya itu Smithsonian Museums. Smithsonian itu semacam institusi dan mereka mengelola BELASAN museum yang KEREN BANGET. dan yang lebih serunya lagi, masuk museum nya GRATIS! museum favorit saya yang pasti National Air and Space Museum. (Caption: White House Press Room) (Caption: Front entrance of white house) (Caption: Washington Monument! Almost made it! Haha!) (Caption : With fellow Indonesian, Komodo Dragon, at Smithsonian Zoo, Washington, D.C.) (Caption : Air and Space Museum, Washington D.C. I believe this musuem is the world’s coolest free-entrance museum) I go to H-B Woodlawn Secondary Program. Yes. It’s not a school — it’s a program. It works basically the same as school except it gives us WAY more freedom to be what we want to do and want to be, in addition to running the program based on self-responsibility of each students. Intinya, sekolah ini BEBAS banget, dan cukup HIPPIE, bahkan untuk orang-orang Amerika. Students call teachers and staffs by their first names. Most teachers allow students to eat, to drink, and to use cell phones during classes. Teachers have comfy couches, microwaves, pantry, mugs, plates, silverwares, even sink in their rooms. There is no bell ringing every period, and teachers welcome coming late students happily. (Caption: Fall Formal Dinner. Fall formal is a school dance. Instead of homecoming, my atypical school, which also does not have any sport teams, held this dance.) (Caption: This photo is taken during Turkey Bowl. Turkey Bowl is games between grades. Each grade makes its own uniform. It is a yearly thing on the last day before Thanksgiving Break) (Caption : The most interesting class I take, AP US Government.) Saya tinggal sama Keluarga Miller. Dan mereka adalah : Mom (Adele), Dad (Jim), Zoe (senior in high school), Colin (sophomore), Luke (8th grade, both the boys going to the same school as I do), and Adrienne (5th grade). Their oldest daughter, Allison, is in college (and I am occupying her room right now. haha). Oh, I almost forgot these 2 other Millers : Venus ( a sad-looking yellow lab) and Bear (big, manly bone head). (Caption: Super Venus!!!! By the way, Bear has refuse his picture to be taken since he’s kinda AFRAID of camera’s flashlight! Such a dog.) Mom is a full-time Mom (kebayang dong, anaknya ada 5) and Dad works for the Department of Defense. Punya 5 anak di Amerika emang ngga wajar, karena itu juga kita tinggal di rumah yang besar dan ga wajar di bagian utara Arlington. Keluarga saya ini sports spectator banget. Setiap malam selalu ada acara olah raga yang ditonton. Semua orang (termasuk MOM dan agak kecuali Adrienne, mungkin karena masih kecil dan ngga begitu peduli) NGERTI aturan-aturan aneh dalam semua olah raga. Mom, Zoe, dan Adrienne suka masak dan baking. Saya ngga bisa masak sama sekali. Pertama datang lanhgsung ditodong suruh masak masakan Indonesia. Saya bingung…. Chopping onions aja belepotan… Hahaha….. (Caption: The Millers! Back left to right : Colin, Dad, Nisa, Zoe. Front left to right : Luke, Adrienne, Mom. (and look who’s on my shirt! :p)) 23 hari pertama saya di Arlington, saya tinggal sama Keluarga Schwartz. David, Ruth, Rachel, dan Pepsi (a fat/muscular cat). Mereka daftarin saya sekolah, antarin saya ke tempat imunisasi, and what not… Memulai kehidupan saya di dunia The Sims (caption: host unk, host aunt, host cousin) Dan yang tentunya menarik, saya sekarang jadi punya banyak teman dari berbagai macam negara dari chapter AFS saya. Lumayan, bisa praktek-in bahasa-bahasa yang saya pelajari sedikit-sedikit semua. (Caption : Best friend Yannick)  (Caption: best friend sarah) 3 bulan pertama di sini emang ga gampang. I had a harsh time at school. I found it very hard to be heard by people - let alone making friends. I got frustrated lots of time. Dan makin terasa sulit juga pas cerita-cerita sama teman-teman siswa AFS lain yang kedengarannya udah pada bahagia banget dan punya banyak teman di tempat masing-masing, sedangkan saya…. huhuhu Fortunately, I got like the most awesome family in the world. Mereka selalu support, coba bantu, dan lain-lain sebagainya.  Terutama Mom dan Zoe, mereka selalu mau saya curhat-in tentang kehidupan sekolah yang sangat melelahkan, emotionally. Saya juga sangat dekat sama Liason AFS saya, Miriam. Saya cerita banyak hal ke dia dan dia juga bantu banyak, dan ceirta pengalaman dia pas jadi siswa AFS dulu. Dan cerita teman-teman siswa AFS lain ujungnya pun jadi cambuk buat saya untuk usaha lebih keras untuk bisa masuk ke pergaulan di sekolah. Saya dapat banyak teman dari Astronomy Club di sekolah, Yang seru, saya masuk Ultimate team di sekolah (silakan di google : “Ultimate Frisbee”) yang merupakan satu-satu nya tim olah raga di sekolah saya, dan itu cukup membantu untuk bisa lebih banyak ngobrol sama teman-teman di sini. (Caption: With Mom at the baseball game) (Caption : With liaison Miriam) (Caption : With Dad and Adrienne on our trip to Bethany Beach, Delaware. Sumpah, pantainya ngga ada apa-apanya kalo dibandingin sama Kuta!) Pindah host family juga salah satu saat-saat terberat dari 3 bulan pertama saya. I literally cried myself to sleep in my first nights di rumah host family saya yang sekarang ini. Untungnya waktu itu saya cuma sedih aja karena udah nyaman sama keluarga Schwartz. Sekarang jadi malah senang banget. Saya masih sering ke rumah host family saya yang lama untuk dinner, ngobrol-ngobrol, curhat, bahkan numpang shalat. Berasa punya 2 rumah, 2 keluarga. Berasa punya extended family di Arlington. (Caption : This picture is taken by my Dad during my birthday dinner. My mom invited my former host family to the dinner. It really was feel like having Uncle and Aunt and Cousin) Dan kalo saat-saat senangnya…… BANYAK BANGET! Hahaha…. Banyak banget hal-hal baru yang seru yang saya lakukan. Saya nonton pro baseball game (and became a huge fan of “ADAM DUNN”! —>silakan di google), saya juga udah sempat ke New York City, first Halloween, first Thanksgiving, first American School dance, sampe ketemu ANDREA HIRATA! wuhaaaa! (Caption : Halloween Party! I was a clown!) (Caption : With Zoe and Andrea Hirata at “Laskar Pelangi” Movie Screening at Freer Gallery of Art, Washington, D.C.) (Caption: broadway! New York City!) Aku juga sempat ngerasain puasa di sini. Enak karena sahur nya jauh lebih siang (waktu bulan september itu sekitar jam 5an kalo ngga salah) tapi Maghrib nya juga lebih malam. Hahaha. Yang ngga enak itu Idul Fitri. Pas idul Fitri aku baru sekitar 1 minggu di sini dan belum tau banyak, bahkan belum kenal sama Dee (a.k.a Ummi, teman YES yang dari Jogja yang kebetulan satu chapter AFS sama aku). Jadi shalat Idul Fitri nya di Masjid dekat rumah gitu. Dan habis shalat, langsung balik ke sekolah. (sedih juga, membandingkan sama Idul Fitri di Jakarta). Padahal, denger kabar yang shalat di Kedutaan Indonesia, BANYAK BANGET makanan Indonesia disajikan. Huhuhu. Pas Shalat idul Adha saya udah lebih pinter dan akhirnya shalat di Islamic Center di Washington DC (sedihnya, kedutaan Indonesia ngga ngadain shalat Idul Adha, jadi ngga bisa ngarep ketupat atau opor ayam, huhuhu) (Caption : With Dee a.k.a. Ummi.) Saya bingung mau nutup Newsletter ini gimana caranya. Di satu sisi, banyak banget hal yang mau saya ceritain, tapi saya juga tau ngga akan bisa saya ceritain dengan baik semuanya di Newsletter ini. Tapi semua tau game The Sims kan? Pasti dong.. Dan hidup saya di sini mirip sama dunia the sims! Haha. Saya sampai sekarang pun masih suka ngerasa sulit di sekolah. Dan lebih sulit lagi untuk ngga ngebandingin kehidupan saya sama kehidupan teman-teman siswa AFS lain. Tapi saya yakin, Tuhan Maha Adil dan semua orang pasti punya obstacle nya masing-masing, dan karena itu juga pengalaman yang kita rasain bakal berbeda. Dan satu hal yang Mom selalu bilang kalo saya ngeluh tentang hal ini,  ”You’re not good at comparing. So, don’t compare.” Haha. (Caption: Random. Fall hiking trip at Shenandoah, Virginia.) Kalo ditanya target ke depannya…. Well, sekarang ini saya lagi seru-seru nya main basket, dan 2 bulan lagi season basket udah habis, dan mulai masuk musim olahraga spring, dan sepertinya saya akan coba main olah raga lain (entah ultimate atau soccer) Saya juga lagi berusaha cari informasi college sebanyak-banyaknya. Saya senang banget tinggal di sini dan mau balik lagi kesini setelah lulus SMA nanti. Makanya sekarang berusaha untuk cari kuliah di sini. Dan seengganya 2 hal itu yang akan saya ceritain di Newsletter berikutnya. Keep the faith up, and drive safely. Love, Nisa Usman

Living in “the Sims” World

Dear everyone,

How’s everything going? I hope you guys are doing fine.

Saya akan cerita tentang 3 bulan pertama saya, di sini…… Di dunia The Sims.

September 2010 akhirnya saya sampai ke Amerika. Yup, just like what I always dream of - get myself OUT of the jammed Jakarta, sambil bawa misi perdamaian dunia. Wussssss.

Setelah hours of flight, ketemu Gana Adi saat transit di Tokyo (sungguh mengharukan), ditahan imigrasi di Minneapolis, I finally arrived in Chicago on August 29. I stayed for 3 days for AFS orientation. It was fun, and turned out I was so lucky. It’s far away from where I live now and I don’t think i’m going to have a chance to visit Chicago again.

(Caption: Chicago!!!!!)

Dari Chicago, saya terbang ke Ronald Reagan Airport, Washington D.C. Turned out I am going to live in Arlington, Virginia. Arlington dan Washington DC dipisahkan sama Potomac River. Dari rumah saya ke White House makan waktu kira-kira 20 menit naik Metro (subway nya Metropolitan Area Washington DC). 

Arlington is physically small - it is one of the smallest county in the U.S, but it is highly populated. Since it’s so close to DC, lots of people in Arlington work for the Federal Government. Di sini asri banget (well, I really couldn’t find any better word for this). Lingkungannya enak untuk jalan kaki, aman, tentram, damai. Banya lapangan terbuka. Bahkan di depan rumah saya masih ada semacam hutan kota yang rural gitu, dan seringkali ada Rusa yang lewat-lewat. Tapi yang selalu banyak dan ada dimana-mana, yang pasti Squirrel. Hahaha.

(Caption : Fall in Arlington!)

Washington DC sendiri kotanya sangat formal. Mungkin jadi terlihat kaku dan “keras” karena banyak kantor federal government. Di sini juga ngga banyak gedung-gedung tinggi seperti yang saya lihat di Chicago. Gedung-gedung di sini ngga boleh ada yang lebih tinggi dari Washington National Monument. Yang paling seru dari Washington DC menurut saya itu Smithsonian Museums. Smithsonian itu semacam institusi dan mereka mengelola BELASAN museum yang KEREN BANGET. dan yang lebih serunya lagi, masuk museum nya GRATIS! museum favorit saya yang pasti National Air and Space Museum.

(Caption: White House Press Room)

(Caption: Front entrance of white house)

(Caption: Washington Monument! Almost made it! Haha!)

(Caption : With fellow Indonesian, Komodo Dragon, at Smithsonian Zoo, Washington, D.C.)

(Caption : Air and Space Museum, Washington D.C. I believe this musuem is the world’s coolest free-entrance museum)

I go to H-B Woodlawn Secondary Program. Yes. It’s not a school — it’s a program. It works basically the same as school except it gives us WAY more freedom to be what we want to do and want to be, in addition to running the program based on self-responsibility of each students. Intinya, sekolah ini BEBAS banget, dan cukup HIPPIE, bahkan untuk orang-orang Amerika. Students call teachers and staffs by their first names. Most teachers allow students to eat, to drink, and to use cell phones during classes. Teachers have comfy couches, microwaves, pantry, mugs, plates, silverwares, even sink in their rooms. There is no bell ringing every period, and teachers welcome coming late students happily.

(Caption: Fall Formal Dinner. Fall formal is a school dance. Instead of homecoming, my atypical school, which also does not have any sport teams, held this dance.)

(Caption: This photo is taken during Turkey Bowl. Turkey Bowl is games between grades. Each grade makes its own uniform. It is a yearly thing on the last day before Thanksgiving Break)

(Caption : The most interesting class I take, AP US Government.)



Saya tinggal sama Keluarga Miller. Dan mereka adalah :

Mom (Adele),
Dad (Jim),
Zoe (senior in high school),
Colin (sophomore),
Luke (8th grade, both the boys going to the same school as I do),
and Adrienne (5th grade).

Their oldest daughter, Allison, is in college (and I am occupying her room right now. haha).

Oh, I almost forgot these 2 other Millers :

Venus ( a sad-looking yellow lab) and Bear (big, manly bone head).

(Caption: Super Venus!!!! By the way, Bear has refuse his picture to be taken since he’s kinda AFRAID of camera’s flashlight! Such a dog.)

Mom is a full-time Mom (kebayang dong, anaknya ada 5) and Dad works for the Department of Defense. Punya 5 anak di Amerika emang ngga wajar, karena itu juga kita tinggal di rumah yang besar dan ga wajar di bagian utara Arlington.

Keluarga saya ini sports spectator banget. Setiap malam selalu ada acara olah raga yang ditonton. Semua orang (termasuk MOM dan agak kecuali Adrienne, mungkin karena masih kecil dan ngga begitu peduli) NGERTI aturan-aturan aneh dalam semua olah raga.

Mom, Zoe, dan Adrienne suka masak dan baking. Saya ngga bisa masak sama sekali. Pertama datang lanhgsung ditodong suruh masak masakan Indonesia. Saya bingung…. Chopping onions aja belepotan… Hahaha…..


(Caption: The Millers! Back left to right : Colin, Dad, Nisa, Zoe. Front left to right : Luke, Adrienne, Mom. (and look who’s on my shirt! :p))


23 hari pertama saya di Arlington, saya tinggal sama Keluarga Schwartz. David, Ruth, Rachel, dan Pepsi (a fat/muscular cat). Mereka daftarin saya sekolah, antarin saya ke tempat imunisasi, and what not… Memulai kehidupan saya di dunia The Sims


(caption: host unk, host aunt, host cousin)

Dan yang tentunya menarik, saya sekarang jadi punya banyak teman dari berbagai macam negara dari chapter AFS saya. Lumayan, bisa praktek-in bahasa-bahasa yang saya pelajari sedikit-sedikit semua.

(Caption : Best friend Yannick) 

(Caption: best friend sarah)

3 bulan pertama di sini emang ga gampang. I had a harsh time at school. I found it very hard to be heard by people - let alone making friends. I got frustrated lots of time. Dan makin terasa sulit juga pas cerita-cerita sama teman-teman siswa AFS lain yang kedengarannya udah pada bahagia banget dan punya banyak teman di tempat masing-masing, sedangkan saya…. huhuhu

Fortunately, I got like the most awesome family in the world. Mereka selalu support, coba bantu, dan lain-lain sebagainya.  Terutama Mom dan Zoe, mereka selalu mau saya curhat-in tentang kehidupan sekolah yang sangat melelahkan, emotionally. Saya juga sangat dekat sama Liason AFS saya, Miriam. Saya cerita banyak hal ke dia dan dia juga bantu banyak, dan ceirta pengalaman dia pas jadi siswa AFS dulu. Dan cerita teman-teman siswa AFS lain ujungnya pun jadi cambuk buat saya untuk usaha lebih keras untuk bisa masuk ke pergaulan di sekolah. Saya dapat banyak teman dari Astronomy Club di sekolah, Yang seru, saya masuk Ultimate team di sekolah (silakan di google : “Ultimate Frisbee”) yang merupakan satu-satu nya tim olah raga di sekolah saya, dan itu cukup membantu untuk bisa lebih banyak ngobrol sama teman-teman di sini.

(Caption: With Mom at the baseball game)

(Caption : With liaison Miriam)

(Caption : With Dad and Adrienne on our trip to Bethany Beach, Delaware. Sumpah, pantainya ngga ada apa-apanya kalo dibandingin sama Kuta!)

Pindah host family juga salah satu saat-saat terberat dari 3 bulan pertama saya. I literally cried myself to sleep in my first nights di rumah host family saya yang sekarang ini. Untungnya waktu itu saya cuma sedih aja karena udah nyaman sama keluarga Schwartz. Sekarang jadi malah senang banget. Saya masih sering ke rumah host family saya yang lama untuk dinner, ngobrol-ngobrol, curhat, bahkan numpang shalat. Berasa punya 2 rumah, 2 keluarga. Berasa punya extended family di Arlington.


(Caption : This picture is taken by my Dad during my birthday dinner. My mom invited my former host family to the dinner. It really was feel like having Uncle and Aunt and Cousin)

Dan kalo saat-saat senangnya…… BANYAK BANGET! Hahaha…. Banyak banget hal-hal baru yang seru yang saya lakukan.
Saya nonton pro baseball game (and became a huge fan of “ADAM DUNN”! —>silakan di google), saya juga udah sempat ke New York City, first Halloween, first Thanksgiving, first American School dance, sampe ketemu ANDREA HIRATA! wuhaaaa!

(Caption : Halloween Party! I was a clown!)

(Caption : With Zoe and Andrea Hirata at “Laskar Pelangi” Movie Screening at Freer Gallery of Art, Washington, D.C.)

(Caption: broadway! New York City!)

Aku juga sempat ngerasain puasa di sini. Enak karena sahur nya jauh lebih siang (waktu bulan september itu sekitar jam 5an kalo ngga salah) tapi Maghrib nya juga lebih malam. Hahaha. Yang ngga enak itu Idul Fitri. Pas idul Fitri aku baru sekitar 1 minggu di sini dan belum tau banyak, bahkan belum kenal sama Dee (a.k.a Ummi, teman YES yang dari Jogja yang kebetulan satu chapter AFS sama aku). Jadi shalat Idul Fitri nya di Masjid dekat rumah gitu. Dan habis shalat, langsung balik ke sekolah. (sedih juga, membandingkan sama Idul Fitri di Jakarta). Padahal, denger kabar yang shalat di Kedutaan Indonesia, BANYAK BANGET makanan Indonesia disajikan. Huhuhu. Pas Shalat idul Adha saya udah lebih pinter dan akhirnya shalat di Islamic Center di Washington DC (sedihnya, kedutaan Indonesia ngga ngadain shalat Idul Adha, jadi ngga bisa ngarep ketupat atau opor ayam, huhuhu)

(Caption : With Dee a.k.a. Ummi.)


Saya bingung mau nutup Newsletter ini gimana caranya. Di satu sisi, banyak banget hal yang mau saya ceritain, tapi saya juga tau ngga akan bisa saya ceritain dengan baik semuanya di Newsletter ini.

Tapi semua tau game The Sims kan? Pasti dong.. Dan hidup saya di sini mirip sama dunia the sims! Haha.

Saya sampai sekarang pun masih suka ngerasa sulit di sekolah. Dan lebih sulit lagi untuk ngga ngebandingin kehidupan saya sama kehidupan teman-teman siswa AFS lain. Tapi saya yakin, Tuhan Maha Adil dan semua orang pasti punya obstacle nya masing-masing, dan karena itu juga pengalaman yang kita rasain bakal berbeda. Dan satu hal yang Mom selalu bilang kalo saya ngeluh tentang hal ini,

 ”You’re not good at comparing. So, don’t compare.”

Haha.

(Caption: Random. Fall hiking trip at Shenandoah, Virginia.)

Kalo ditanya target ke depannya….

Well, sekarang ini saya lagi seru-seru nya main basket, dan 2 bulan lagi season basket udah habis, dan mulai masuk musim olahraga spring, dan sepertinya saya akan coba main olah raga lain (entah ultimate atau soccer)

Saya juga lagi berusaha cari informasi college sebanyak-banyaknya. Saya senang banget tinggal di sini dan mau balik lagi kesini setelah lulus SMA nanti. Makanya sekarang berusaha untuk cari kuliah di sini.

Dan seengganya 2 hal itu yang akan saya ceritain di Newsletter berikutnya.


Keep the faith up, and drive safely.

Love,



Nisa Usman

Gana in California! A : Dude, where do you wanna go this weekend? B : Uuum, I don’t know. Why don’t we go to Downtown L.A. in the morning and then go hang-out on the beach at Malibu, then go shopping at Santa Monica, and we can go to Hollywood too in the afternoon, then Pasadena. What else dude? Oh yeah, can we stop by In-N-Out to buy double double before we get home? Or maybe we just spend a day in Disneyland or Universal Studio. Sounds good, huh? A : Yeah, totally! Awesome, aren’t they? Believe me, they are. Hay, I’m Gana. What’s up guys? How’s life going? Well, mine is so freaking awesome! Really, I’m serious. My life is full of up-side-down-unforgettable-moment. Hell yeah! Where am I right now by the way? I live in Claremont, a small green city which is located 15 minutes from Downtown Los Angeles (actually, Claremont is still a part of Los Angeles County, so I am an Angeleser!). Can you believe it? Los Angeles baby! But unfortunately, the public transportation is kinda hard to get because of bad economy. So basically, I’m kinda trap in this nice quite city. Oh well. I go to Claremont High School, the 3rd best school in California for academic reason. If you guys think about school and American student life, you may think it seems like HSM but puuufh, school is not like that. School in Southern California (from now on, let’s use So-Cal) consists of many single story buildings, we call them quads. In American education system, a student must take certain mandatory classes and also they can take a bunch of electives. The schedule is same everyday. American system also makes students do tons of homework everyday, but less exams. Uuuuugh, I hate the homework. Aaaaaaaaaaaa! But I’ll miss it tough, for sure. It’s not that bad actually. And we use technology a lot, we use MacBook and iTouch in class, and also school website to submit our assignments. I have 6 periods of class a day, and my classes are: Business and Management, Virtual Enterprise, English Literature, IB Environmental Science, German I, and Ceramics. School officially starts at 6.50 for them who have 1st periode, but fortunately I don’t, so I go to school at 7.55 and it ends at 2.55. My school consists of 2,000 students (yeah, it’s so impacted) from grade 10th to 12th. I’m a SENIOR btw. Yeah! My school is also a party-freaker school. LOL! We have 4 dances (or balls) every year and also another events in almost every month. We have our authentic Sadies dance (it’s a girl-ask-boy dance), well known Homecoming dance, Charity League dance, and Prom. Wohooow, PARTY! And actually, school dances are so important for me, because : fun, make new friends, and increasing my dance skill (cha-cha slide, charlie brown, shuffle, old school, jump style, east coast swing, you name it. LOL! NB : soon, I will be able to dance hoedown throwdown. Boom boom clap boom dee clap dee clap). That’s all from my school. My actual life itself is pretty much interesting. I live with Remis family. My hostdad is hispanic and my mom is white. I have 6 little host-siblings and I’m working really hard to face them (someday I feel like I wanna put them in a sag and throw it away). But my hostparent is the best parent ever. One time, I must stay at hospital for 4 days because I almost drowned. Yeph, so here is the full story: it was Monday and I was so freaking tired and then I swam, la la la, and then I passed out at swimming pool. Tadaaaaa! Anyway, when I was in hospital, my hostmom stayed with me all day long, she didn’t want to leave me alone. BOOM! Hiks hiks, it was so touchy. One thing that I love from this life is : my friends. I have amazing friends ever! We go hang-out at lunch and on the weekend, and I can tell anything to them. We went to football games every Friday night (yeah, it’s America dude!). We went to Sadies dance together, and also Homecoming dance too. I must tell you guys, Homecoming was the best dance ever (well, not ever, “until now” are the right words I guess). They also took me trick-or-treating on Halloween! They also gave me handmade-get-well-soon-card when I was in hospital. I feel so lucky I met them. At all, people may say the first 3 months is the hardest time, full of sleepless and homesick nights. But mine was so unbelievable. i didn’t have so much problem with language (well, sometimes my accent is just like a crap) and also with adjustment. Someway, I fit into this kind of life. I LOVE YOU USA! Don’t let this party ever. Arrival Orientation at St. Monica SADIES 2010 Homecoming 2010 LA County Fair at Walt Disney Concert Hall, LA Note: Thanks for reading my story. It’s not end yet. Yeah! I’ll talk later about my journey in the 2nd newsletter. Best wishes! xoxo

Gana in California!

A : Dude, where do you wanna go this weekend?

B : Uuum, I don’t know. Why don’t we go to Downtown L.A. in the morning and then go hang-out on the beach at Malibu, then go shopping at Santa Monica, and we can go to Hollywood too in the afternoon, then Pasadena. What else dude? Oh yeah, can we stop by In-N-Out to buy double double before we get home? Or maybe we just spend a day in Disneyland or Universal Studio. Sounds good, huh?

A : Yeah, totally!

Awesome, aren’t they? Believe me, they are.

Hay, I’m Gana. What’s up guys? How’s life going?

Well, mine is so freaking awesome! Really, I’m serious. My life is full of up-side-down-unforgettable-moment.

Hell yeah!

Where am I right now by the way? I live in Claremont, a small green city which is located 15 minutes from Downtown Los Angeles (actually, Claremont is still a part of Los Angeles County, so I am an Angeleser!). Can you believe it? Los Angeles baby! But unfortunately, the public transportation is kinda hard to get because of bad economy. So basically, I’m kinda trap in this nice quite city. Oh well.

I go to Claremont High School, the 3rd best school in California for academic reason. If you guys think about school and American student life, you may think it seems like HSM but puuufh, school is not like that. School in Southern California (from now on, let’s use So-Cal) consists of many single story buildings, we call them quads. In American education system, a student must take certain mandatory classes and also they can take a bunch of electives. The schedule is same everyday. American system also makes students do tons of homework everyday, but less exams. Uuuuugh, I hate the homework. Aaaaaaaaaaaa! But I’ll miss it tough, for sure. It’s not that bad actually. And we use technology a lot, we use MacBook and iTouch in class, and also school website to submit our assignments.

I have 6 periods of class a day, and my classes are: Business and Management, Virtual Enterprise, English Literature, IB Environmental Science, German I, and Ceramics. School officially starts at 6.50 for them who have 1st periode, but fortunately I don’t, so I go to school at 7.55 and it ends at 2.55. My school consists of 2,000 students (yeah, it’s so impacted) from grade 10th to 12th. I’m a SENIOR btw. Yeah! My school is also a party-freaker school. LOL! We have 4 dances (or balls) every year and also another events in almost every month. We have our authentic Sadies dance (it’s a girl-ask-boy dance), well known Homecoming dance, Charity League dance, and Prom. Wohooow, PARTY! And actually, school dances are so important for me, because : fun, make new friends, and increasing my dance skill (cha-cha slide, charlie brown, shuffle, old school, jump style, east coast swing, you name it. LOL! NB : soon, I will be able to dance hoedown throwdown. Boom boom clap boom dee clap dee clap).

That’s all from my school. My actual life itself is pretty much interesting. I live with Remis family. My hostdad is hispanic and my mom is white. I have 6 little host-siblings and I’m working really hard to face them (someday I feel like I wanna put them in a sag and throw it away). But my hostparent is the best parent ever. One time, I must stay at hospital for 4 days because I almost drowned. Yeph, so here is the full story: it was Monday and I was so freaking tired and then I swam, la la la, and then I passed out at swimming pool. Tadaaaaa! Anyway, when I was in hospital, my hostmom stayed with me all day long, she didn’t want to leave me alone. BOOM! Hiks hiks, it was so touchy.

One thing that I love from this life is : my friends. I have amazing friends ever! We go hang-out at lunch and on the weekend, and I can tell anything to them. We went to football games every Friday night (yeah, it’s America dude!). We went to Sadies dance together, and also Homecoming dance too. I must tell you guys, Homecoming was the best dance ever (well, not ever, “until now” are the right words I guess). They also took me trick-or-treating on Halloween! They also gave me handmade-get-well-soon-card when I was in hospital. I feel so lucky I met them.

At all, people may say the first 3 months is the hardest time, full of sleepless and homesick nights. But mine was so unbelievable. i didn’t have so much problem with language (well, sometimes my accent is just like a crap) and also with adjustment. Someway, I fit into this kind of life. I LOVE YOU USA! Don’t let this party ever.

Arrival Orientation at St. Monica

SADIES 2010

Homecoming 2010

LA County Fair

at Walt Disney Concert Hall, LA

Note: Thanks for reading my story. It’s not end yet. Yeah! I’ll talk later about my journey in the 2nd newsletter. Best wishes! xoxo

Newsletter dari Belgia Fauzia Firdanisa SMA Negeri 9 Yogyakarta/Chapter Yogyakarta AFS Belgia-Flanders   Sejujurnya setengah tahun yang lalu aku sama sekali nggak nyangka bakal sampai ke Belgia, negara mini yang merupakan ibukota Eropa. Bahkan, dulu feelingku kuat banget bahwa aku akan dikirim ke Jerman atau Italia, sampai-sampai aku ikut kursus bahasa Italia selama kira-kira satu setengah bulan. Sama sekali nggak terpikirkan kalau bahasa yang harus aku pelajari adalah bahasa Belanda, bahasa yang akrab sekali di telinga kita orang Indonesia. Sekarang akhirnya aku mengerti arti dari judul buku-buku Multatuli, atau istilah-istilah yang dipakai VOC dan Indonesia semasa penjajahan dulu, yang semuanya berasal dari buku sejarah kelas 5 SD. Semua itu memberiku kepuasan tersendiri, kalau boleh menambahkan, hahaha.   Setengah tahun yang lalu, ketika akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan orang-orang, “Kamu tuh sakjane nanti berangkat kemana tho?” kebanyakan hanya berakhir dengan mereka merespons, “Ha? Mana tuh?” dan membuatku sedikit tergelitik. Akhirnya aku perlu menjelaskan bahwa Belgia terletak di Eropa, Eropa Timur tepatnya. Lucu bahwa Belgia adalah ibukota Eropa, tapi jarang disebut-sebut di sekolah. Ketika mereka akhirnya manggut-manggut “Oooh, ya ya, ketoke aku pernah denger. Wah, kamu berarti harus belajar bahasa Belgia dong,” Hahahaha. Oke. Bahasa.   Belgia, negara mini yang besarnya kira-kira cuma ¼  pulau Jawa, terbagi menjadi dua daerah yang sebenarnya sudah bisa dibilang negara sendiri. Jangan salahkan aku bilang begitu, masalahnya dua bagian itu punya pemerintahan sendiri, administrasi sendiri, siaran TV/Radio sendiri, dan bahasa sendiri. Dua bagian itu adalah Vlaanderen dan Wallonië. Vlaanderen adalah bagian tempatku tinggal, terletak di sebelah utara Belgia dan bahasanya adalah bahasa Belanda. Sedangkan  Wallonië terletak di sebelah selatan Belgia, menggunakan bahasa Prancis. Penduduk Vlaanderen dan  Wallonië pun sepertinya tidak tahu atau tidak mau tahu soal apa yang terjadi di seberang sana. Setiap kali teman-temanku disini merujuk pada  Wallonië, mereka bahkan hanya berkata, “de andere kant van Belgie,” atau terjemahan kasarnya, “di sebelah sananya Belgia”. Tak perlu membaca wikipedia untuk tahu hubungan mereka tidak begitu bagus. Oh ya, selain itu ada juga bagian kecil dari Belgia yang berbatasan dengan Jerman dimana mereka menggunakan bahasa Jerman sehingga di Vlaanderen, sekolah wajib mencantumkan bahasa Prancis dan Jerman ke dalam kurrikulum.   Keluarga angkatku di Belgia adalah keluarga kecil sederhana. Ayah angkatku, Marc, adalah seorang advisor kesehatan sedangkan ibu angkatku, Christa, bekerja di organisasi keagamaan, CCV.  Mereka hanya punya satu anak, Louise, yang berusia 13 tahun. Aku dan Louise pergi ke sekolah yang sama di Torhout, tapi berbeda blok. Di sekolah di Vlaanderen, ada larangan untuk memakai kerudung, sehingga aku di sekolah tidak pakai kerudung. Sebenarnya di Belgia banyak juga muslim meski kebanyakan adalah imigran dari Maroko atau Tunisia, tapi banyak orang yang masih menganggap kalau Islam itu berbahaya. Setiap kali aku keluar rumah memakai kerudung, orang-orang selalu melihat dengan tatapan curiga. Sebulan sekali datang François untuk makan siang, dia mentally handicapped dan dulu sempat di bawah asuhan Christa.   Lalu setelah 3 bulan, yang merupakan perubahan signifikan dariku adalah…*insert drumroll here* hey look! another fat student, guys. Ibu angkatku jago masak, semua yang beliau bikin, mau pertamakali mencoba pun hasilnya enak. Selama ini aku nggak pernah komplain hasil masakan beliau.  Dan ini bukannya boasting, soalnya François juga pernah bilang kalau Christa adalah koki terbaik di Vlaanderen, hahaha. Belum lagi, sebulan terakhir ini banyak festival seperti Sinterklaas (Saint Nicholas), Natal dan Tahun Baru. Aku dapat banyak kado cokelat. Asal tahu saja di Belgia cokelat yang paling murah pun lebih enak dari cokelat mahal di Indonesia. Yang namanya Belgia, di Eropa, norma/kebiasannya pastinya jauh berbeda dengan di Indonesia. Salah satu dari itu aku pelajari dengan sangat memalukan.   Hari itu adalah hari pertama kelasku dapat giliran berenang untuk olahraga. Aku masuk ke ruang ganti bersama anak-anak cewek yang lain. Anehnya, di ruang ganti itu tidak ada tulisan “Dames” (Ladies) atau “Heren” (Gents). Berhubung waktu itu penuh cewek, aku akhirnya masuk ke salah satu bilik dan masa bodoh, mungkin untuk cowok ada di bagian lain kolam renang. Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara tertawa salah satu teman sekelasku yang cowok, dibarengi suara ngobrol. Mereka masuk kesini! Salah satu dari mereka pun ganti baju di bilik sebelahku. Aku langsung kaku. Jangan-jangan aku masuk ke tempat yang salah! Mana teman-temanku yang cewek sudah pada selesai ganti dan langsung ke kolam renang. Akhirnya aku menunggu sampai cowok-cowok itu selesai dan pergi dari ruang ganti. Sialnya, aku jadi terlambat banget untuk kelas berenang dan seisi kelas melihatku dengan tatapan bingung, apa di Indonesia orang kalau ganti baju bisa lebih dari setengah jam.   Setelah itu aku cerita ke keluarga angkatku dimana mereka cuma tertawa. Adik angkatku, Louise, dengan entengnya bilang, “Ya, memang biasanya sih tempatnya dipisah tapi nggak ada yang peduli, uhuh? Kalau ada yang kosong ya, oh wow sweet, dan mereka masuk aja,” dengan cepat ibu angkatku buru-buru menambahkan, “Tapi kalau satu bilik ya nggak boleh, kok. Nanti kamu juga terbiasa, Fauzia,” Kalau yang satu ini, Christa, kayaknya aku tidak akan pernah terbiasa…[]. Di Disneyland Paris bersama adik angkatku, Louise Presentasi tentang Indonesia di kelas 6  dengan teman se-chapter di Brussel    

Newsletter dari Belgia

Fauzia Firdanisa

SMA Negeri 9 Yogyakarta/Chapter Yogyakarta

AFS Belgia-Flanders

 

IMGP3040

Sejujurnya setengah tahun yang lalu aku sama sekali nggak nyangka bakal sampai ke Belgia, negara mini yang merupakan ibukota Eropa. Bahkan, dulu feelingku kuat banget bahwa aku akan dikirim ke Jerman atau Italia, sampai-sampai aku ikut kursus bahasa Italia selama kira-kira satu setengah bulan. Sama sekali nggak terpikirkan kalau bahasa yang harus aku pelajari adalah bahasa Belanda, bahasa yang akrab sekali di telinga kita orang Indonesia. Sekarang akhirnya aku mengerti arti dari judul buku-buku Multatuli, atau istilah-istilah yang dipakai VOC dan Indonesia semasa penjajahan dulu, yang semuanya berasal dari buku sejarah kelas 5 SD. Semua itu memberiku kepuasan tersendiri, kalau boleh menambahkan, hahaha.

 

Setengah tahun yang lalu, ketika akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan orang-orang, “Kamu tuh sakjane nanti berangkat kemana tho?” kebanyakan hanya berakhir dengan mereka merespons, “Ha? Mana tuh?” dan membuatku sedikit tergelitik. Akhirnya aku perlu menjelaskan bahwa Belgia terletak di Eropa, Eropa Timur tepatnya. Lucu bahwa Belgia adalah ibukota Eropa, tapi jarang disebut-sebut di sekolah. Ketika mereka akhirnya manggut-manggut “Oooh, ya ya, ketoke aku pernah denger. Wah, kamu berarti harus belajar bahasa Belgia dong,” Hahahaha. Oke. Bahasa.

 

Belgia, negara mini yang besarnya kira-kira cuma ¼  pulau Jawa, terbagi menjadi dua daerah yang sebenarnya sudah bisa dibilang negara sendiri. Jangan salahkan aku bilang begitu, masalahnya dua bagian itu punya pemerintahan sendiri, administrasi sendiri, siaran TV/Radio sendiri, dan bahasa sendiri. Dua bagian itu adalah Vlaanderen dan Wallonië. Vlaanderen adalah bagian tempatku tinggal, terletak di sebelah utara Belgia dan bahasanya adalah bahasa Belanda. Sedangkan  Wallonië terletak di sebelah selatan Belgia, menggunakan bahasa Prancis. Penduduk Vlaanderen dan  Wallonië pun sepertinya tidak tahu atau tidak mau tahu soal apa yang terjadi di seberang sana. Setiap kali teman-temanku disini merujuk pada  Wallonië, mereka bahkan hanya berkata, “de andere kant van Belgie,” atau terjemahan kasarnya, “di sebelah sananya Belgia”. Tak perlu membaca wikipedia untuk tahu hubungan mereka tidak begitu bagus. Oh ya, selain itu ada juga bagian kecil dari Belgia yang berbatasan dengan Jerman dimana mereka menggunakan bahasa Jerman sehingga di Vlaanderen, sekolah wajib mencantumkan bahasa Prancis dan Jerman ke dalam kurrikulum.

 

Keluarga angkatku di Belgia adalah keluarga kecil sederhana. Ayah angkatku, Marc, adalah seorang advisor kesehatan sedangkan ibu angkatku, Christa, bekerja di organisasi keagamaan, CCV.  Mereka hanya punya satu anak, Louise, yang berusia 13 tahun. Aku dan Louise pergi ke sekolah yang sama di Torhout, tapi berbeda blok. Di sekolah di Vlaanderen, ada larangan untuk memakai kerudung, sehingga aku di sekolah tidak pakai kerudung. Sebenarnya di Belgia banyak juga muslim meski kebanyakan adalah imigran dari Maroko atau Tunisia, tapi banyak orang yang masih menganggap kalau Islam itu berbahaya. Setiap kali aku keluar rumah memakai kerudung, orang-orang selalu melihat dengan tatapan curiga. Sebulan sekali datang François untuk makan siang, dia mentally handicapped dan dulu sempat di bawah asuhan Christa.

 

Lalu setelah 3 bulan, yang merupakan perubahan signifikan dariku adalah…*insert drumroll here* hey look! another fat student, guys. Ibu angkatku jago masak, semua yang beliau bikin, mau pertamakali mencoba pun hasilnya enak. Selama ini aku nggak pernah komplain hasil masakan beliau.  Dan ini bukannya boasting, soalnya François juga pernah bilang kalau Christa adalah koki terbaik di Vlaanderen, hahaha. Belum lagi, sebulan terakhir ini banyak festival seperti Sinterklaas (Saint Nicholas), Natal dan Tahun Baru. Aku dapat banyak kado cokelat. Asal tahu saja di Belgia cokelat yang paling murah pun lebih enak dari cokelat mahal di Indonesia.

Yang namanya Belgia, di Eropa, norma/kebiasannya pastinya jauh berbeda dengan di Indonesia. Salah satu dari itu aku pelajari dengan sangat memalukan.

 

Hari itu adalah hari pertama kelasku dapat giliran berenang untuk olahraga. Aku masuk ke ruang ganti bersama anak-anak cewek yang lain. Anehnya, di ruang ganti itu tidak ada tulisan “Dames” (Ladies) atau “Heren” (Gents). Berhubung waktu itu penuh cewek, aku akhirnya masuk ke salah satu bilik dan masa bodoh, mungkin untuk cowok ada di bagian lain kolam renang. Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara tertawa salah satu teman sekelasku yang cowok, dibarengi suara ngobrol. Mereka masuk kesini! Salah satu dari mereka pun ganti baju di bilik sebelahku. Aku langsung kaku. Jangan-jangan aku masuk ke tempat yang salah! Mana teman-temanku yang cewek sudah pada selesai ganti dan langsung ke kolam renang. Akhirnya aku menunggu sampai cowok-cowok itu selesai dan pergi dari ruang ganti. Sialnya, aku jadi terlambat banget untuk kelas berenang dan seisi kelas melihatku dengan tatapan bingung, apa di Indonesia orang kalau ganti baju bisa lebih dari setengah jam.

 

Setelah itu aku cerita ke keluarga angkatku dimana mereka cuma tertawa. Adik angkatku, Louise, dengan entengnya bilang, “Ya, memang biasanya sih tempatnya dipisah tapi nggak ada yang peduli, uhuh? Kalau ada yang kosong ya, oh wow sweet, dan mereka masuk aja,” dengan cepat ibu angkatku buru-buru menambahkan, “Tapi kalau satu bilik ya nggak boleh, kok. Nanti kamu juga terbiasa, Fauzia,” Kalau yang satu ini, Christa, kayaknya aku tidak akan pernah terbiasa…[].

IMGP3547

Di Disneyland Paris bersama adik angkatku, Louise DSC01286 Presentasi tentang Indonesia di kelas 6 afs mwv

dengan teman se-chapter di Brussel

 

 

Gallahorn fra Norge!   Assalamuallaikum, hallo alle sammen! Hvordan har du det? It’s me Cinta!. Well, first of all, perkenalan dulu deh, siapa tau pada lupa. Jeg heter (namaku) Cintantya Danurpasthika Probohiswari. Biasa dipanggil Cinta. Asal dari chapter Surabaya dan kebetulan pada angkatan AFS 2010-2011 ini saya merupakan satu-satunya yang dikirim ke Norwegia. (: Nggak kerasa sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Norwegia. Tentunya dalam kurun waktu 5 bulan itu sudah banyak peristiwa yang dialami dan hal-hal baru yang dijumpai.  Dari yang awalnya nggak tahu apa-apa sekarang banyak tahu. Dari mulai ketawa-ketawa, seneng-seneng sama hostfam dan teman-teman sampe (mungkin) nangis keinget rumah dan keluarga di Indonesia. Well, melalui Newsletter ini aku akan sedikit bercuap-cuap soal kehidupan aku selama 5 bulan di Norwegia, tempat para Viking tinggal. Pertama-tama introduction soal Norwegia dulu deh. Norwegia atau Norway (dalam bahasa Inggris) atau Norge (dalam bahasa Norsk Bokmal) atau Noreg (dalam bahasa NyNorsk) berarti jalur atau jalan utara. Yep, Norway merupakan Negara Scandinavia yang terletak di Eropa utara. Norway berbatasan dengan Sweden, Finland, Russia, dan Denmark. Norway has a total area of 385,252 square kilometres (148,747 sq mi) and a population of about 4.9 million. Jadi kebayang kan gimana sepinya? Kalau soal alamnya, Norway is dominated by mountains. And the most noticeable from the nature are the fjords. Selain Fjords dan gunung-gunung, ada lagi ciri khas nya Norway. Yaitu Iklimnya yang DINGIN. Sebenernya Norway punya 4 musim sama seperti negara-negara Eropa lainnya. Tapi menurut aku, Norway Cuma punya 2 musim : Kalo nggak dingin ya dingin banget. Selama summer matahari di Norway hampir nggak pernah tenggelam, sampe bisa liat midnight sun, while kalo musim dingin dateng mataharinya hampir nggak pernah nongol. Sekarang beralih ke pengalaman pribadiku. Well, saya merupakan anak AFS 2010-2011 yang berangkat paling pertama ke negara tujuan. Tepatnya tanggal 19 Agustus jam 12 siang. Pesawat dari Jakarta ke Bangkok (transit 9 jam di Bangkok) , lalu dari Bangkok directly ke Oslo. Perasaanku waktu pertama kali berangkat rasanya campur aduk. Yang jelas perasaan takut paling mendominasi. Aku dikirim sendirian ke Norway dan nggak berbekal kemampuan berbahasa Norsk sama sekali (Bahkan untuk memperkenalkan diri pun nggak tau gimana caranya). Di Norway saya tinggal bersama Spigset Family. The family members are : Pappa Olav Spigset, Mamma Hilde Pleym, Sisters : Kjersti and Nina, Lil brother : øystein. Kami tinggal di kota Trondheim, yang terletak di Norway bagian tengah. Trondheim merupakan kota terbesar ketiga di Norway. Trondheim merupakan kota pelajar dimana University terkenal Norway berada. Kotanya bagus banget, dan punya Landmark yang terkenal di Eropa yaitu Nidaros Katedral, salah satu gereja paling tua di Eropa. MED FAMILIEN (with the family): Alhamdulillah disini aku tinggal dengan keluarga yang baik banget. Mereka itu nggak Cuma keluarga tapi juga guru buat aku. Mulai dari Mamma dan Pappa sampe si kecil øystein, semua selalu bantu aku. Kjersti ngajarin aku main klarinet, Nina yang selalu bersedia ditanya-tanyain, dan øystein ngajarin main bola. Keluarga aku hobby banget olahraga. Maklum Pappa dan Mamma dua-duanya dokter, jadi disiplin banget sama kesehatan dan kebugaran tubuh.Tiap minggu kita pergi ski atau hiking. Disini aku sudah ndaki lebih dari 5 gunung. Selain itu keluarga aku suka traveling. Pada bulan Oktober kemarin, kita sekeluarga pergi liburan ke Madrid, dan pada Vinter Ferie (libur musim dingin) bulan Februari nanti kita akan jalan-jalan ke Dubai, Bahrain, dan Oman selama seminggu. På Skolen (di sekolah) : Disini, nama sekolah aku Heimdal Videregående Skole. Sekolahnya lumayan besar. Fasilitas nya lengkap. Di sekolah kita dikasih personal computer satu-satu. Dan buku pelajarannya nggak beli, melainkan dipinjami sekolah. Di sekolah aku ada 4 majors yang ditawarin : 1. Study spesialisering (pelajaran regular kayak kita di Indonesia ada IPA dan IPS), 2. Musikk (buat yang mau jadi musikus), 3. Idrett (atlit), 4. Elektro. Nah major yang aku ambil yang Study Spesialisering. Disini aku ditempatin di VG 2, alias kelas 2 SMA. Cuma sistem di Norway pendidikan di bangku sekolah itu 13 tahun, jadi sama aja aku kelas 12. Pelajaran yang aku ambil itu : Matematik R2 (advanced mathematics buat VG 3), Fysikk 2 ( Advanced physics buat VG3), Internasjonal Engelsk (inggris), Kommunikasjon og Kultur (ilmu komunikasi gitu deh), dan sisanya pelajaran wajib antara lain; historie, norsk, dan olahraga. Awal sekolah kerasa susah banget. Jujur aja, aku sering ketiduran di kelas. Cuma bangun waktu pelajaran Matematika dan Inggris. Sisanya angop-angop mulu di kelas. Tapi setelah 2-3 bulan sekolah alhamdulillah sudah mulai bisa bahasanya, sudah bisa ngerjain ulangan dan tugas dengan baik. Vennener minne! (my Friends) : Well, honestly, untuk dapet teman Norwegian itu nggak gampang. Hari  petama aku masuk sekolah Cuma 2 orang yang mau ngajak bicara. Anak-anak Norway cenderung pemalu dan nggak mau bicara dalam bahasa Inggris. Karena kondisi kecepit dan rasa pengen punya temen, akirnya aku semakin terpacu untuk belajar bahasa lebih cepat. Alhamdulillah sekarang sudah punya banyak teman di sekolah. Mereka yang awalnya kelihatan dingin, sekarang jadi pribadi yang sangat hangat dan selalu menolong. Bahkan aku dibikinkan pesta kecil dan dimasakin masakan khas Norwegia. Aku juga sudah pernah masak buat teman-teman aku. Aku masak Opor ayam dan Nasi Goreng.   Dari 5 bulan pertama ini saya belajar banyak hal. Mulai dari bertahan, mandiri, respect. Belajar untuk memahami diri sendiri, menyelesaikan masalah sendiri dan encourage diri sendiri untuk belajar leb. ih dan lebihDengan hidup jauh dari keluarga di Indonesia, aku jadi lebih menghargai apa yang aku punya dan menyadari betapa pentingnya kebersamaan bersama keluarga. Dengan hidup di negara lain yang budayanya jauh berbeda dari Indonesia, aku membuka mataku lebar-lebar untuk menerima dan menghargai perbedaan. Hidup di negara maju dan kaya seperti Norway ini, memberi kesempatan buat aku belajar hal-hal baru yang insyaAllah nantinya kalau pulang bisa diamalkan di Indonesia. Semoga kita semua bisa memanfaatkan sisa waktu beberapa bulan di hostcountry masing-masing dengan semaksimal mungkin. Selalu bersyukur ya teman-teman, jangn menyerah dan tetap semangat! Because.. We’re AFSer!   Love love, Cinta <3  

Gallahorn fra Norge!

 

Assalamuallaikum, hallo alle sammen! Hvordan har du det?

It’s me Cinta!. Well, first of all, perkenalan dulu deh, siapa tau pada lupa. Jeg heter (namaku) Cintantya Danurpasthika Probohiswari. Biasa dipanggil Cinta. Asal dari chapter Surabaya dan kebetulan pada angkatan AFS 2010-2011 ini saya merupakan satu-satunya yang dikirim ke Norwegia. (:

Nggak kerasa sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Norwegia. Tentunya dalam kurun waktu 5 bulan itu sudah banyak peristiwa yang dialami dan hal-hal baru yang dijumpai.  Dari yang awalnya nggak tahu apa-apa sekarang banyak tahu. Dari mulai ketawa-ketawa, seneng-seneng sama hostfam dan teman-teman sampe (mungkin) nangis keinget rumah dan keluarga di Indonesia.

Well, melalui Newsletter ini aku akan sedikit bercuap-cuap soal kehidupan aku selama 5 bulan di Norwegia, tempat para Viking tinggal.

Pertama-tama introduction soal Norwegia dulu deh. Norwegia atau Norway (dalam bahasa Inggris) atau Norge (dalam bahasa Norsk Bokmal) atau Noreg (dalam bahasa NyNorsk) berarti jalur atau jalan utara. Yep, Norway merupakan Negara Scandinavia yang terletak di Eropa utara. Norway berbatasan dengan Sweden, Finland, Russia, dan Denmark. Norway has a total area of 385,252 square kilometres (148,747 sq mi) and a population of about 4.9 million. Jadi kebayang kan gimana sepinya?

Kalau soal alamnya, Norway is dominated by mountains. And the most noticeable from the nature are the fjords. Selain Fjords dan gunung-gunung, ada lagi ciri khas nya Norway. Yaitu Iklimnya yang DINGIN. Sebenernya Norway punya 4 musim sama seperti negara-negara Eropa lainnya. Tapi menurut aku, Norway Cuma punya 2 musim : Kalo nggak dingin ya dingin banget. Selama summer matahari di Norway hampir nggak pernah tenggelam, sampe bisa liat midnight sun, while kalo musim dingin dateng mataharinya hampir nggak pernah nongol.

Sekarang beralih ke pengalaman pribadiku. Well, saya merupakan anak AFS 2010-2011 yang berangkat paling pertama ke negara tujuan. Tepatnya tanggal 19 Agustus jam 12 siang. Pesawat dari Jakarta ke Bangkok (transit 9 jam di Bangkok) , lalu dari Bangkok directly ke Oslo. Perasaanku waktu pertama kali berangkat rasanya campur aduk. Yang jelas perasaan takut paling mendominasi. Aku dikirim sendirian ke Norway dan nggak berbekal kemampuan berbahasa Norsk sama sekali (Bahkan untuk memperkenalkan diri pun nggak tau gimana caranya).

Di Norway saya tinggal bersama Spigset Family. The family members are : Pappa Olav Spigset, Mamma Hilde Pleym, Sisters : Kjersti and Nina, Lil brother : øystein. Kami tinggal di kota Trondheim, yang terletak di Norway bagian tengah. Trondheim merupakan kota terbesar ketiga di Norway. Trondheim merupakan kota pelajar dimana University terkenal Norway berada. Kotanya bagus banget, dan punya Landmark yang terkenal di Eropa yaitu Nidaros Katedral, salah satu gereja paling tua di Eropa.

MED FAMILIEN (with the family):

Alhamdulillah disini aku tinggal dengan keluarga yang baik banget. Mereka itu nggak Cuma keluarga tapi juga guru buat aku. Mulai dari Mamma dan Pappa sampe si kecil øystein, semua selalu bantu aku. Kjersti ngajarin aku main klarinet, Nina yang selalu bersedia ditanya-tanyain, dan øystein ngajarin main bola.

Keluarga aku hobby banget olahraga. Maklum Pappa dan Mamma dua-duanya dokter, jadi disiplin banget sama kesehatan dan kebugaran tubuh.Tiap minggu kita pergi ski atau hiking. Disini aku sudah ndaki lebih dari 5 gunung.

Selain itu keluarga aku suka traveling. Pada bulan Oktober kemarin, kita sekeluarga pergi liburan ke Madrid, dan pada Vinter Ferie (libur musim dingin) bulan Februari nanti kita akan jalan-jalan ke Dubai, Bahrain, dan Oman selama seminggu.

På Skolen (di sekolah) :

Disini, nama sekolah aku Heimdal Videregående Skole. Sekolahnya lumayan besar. Fasilitas nya lengkap. Di sekolah kita dikasih personal computer satu-satu. Dan buku pelajarannya nggak beli, melainkan dipinjami sekolah. Di sekolah aku ada 4 majors yang ditawarin : 1. Study spesialisering (pelajaran regular kayak kita di Indonesia ada IPA dan IPS), 2. Musikk (buat yang mau jadi musikus), 3. Idrett (atlit), 4. Elektro. Nah major yang aku ambil yang Study Spesialisering. Disini aku ditempatin di VG 2, alias kelas 2 SMA. Cuma sistem di Norway pendidikan di bangku sekolah itu 13 tahun, jadi sama aja aku kelas 12. Pelajaran yang aku ambil itu : Matematik R2 (advanced mathematics buat VG 3), Fysikk 2 ( Advanced physics buat VG3), Internasjonal Engelsk (inggris), Kommunikasjon og Kultur (ilmu komunikasi gitu deh), dan sisanya pelajaran wajib antara lain; historie, norsk, dan olahraga.

Awal sekolah kerasa susah banget. Jujur aja, aku sering ketiduran di kelas. Cuma bangun waktu pelajaran Matematika dan Inggris. Sisanya angop-angop mulu di kelas. Tapi setelah 2-3 bulan sekolah alhamdulillah sudah mulai bisa bahasanya, sudah bisa ngerjain ulangan dan tugas dengan baik.

Vennener minne! (my Friends) :

Well, honestly, untuk dapet teman Norwegian itu nggak gampang. Hari  petama aku masuk sekolah Cuma 2 orang yang mau ngajak bicara. Anak-anak Norway cenderung pemalu dan nggak mau bicara dalam bahasa Inggris. Karena kondisi kecepit dan rasa pengen punya temen, akirnya aku semakin terpacu untuk belajar bahasa lebih cepat. Alhamdulillah sekarang sudah punya banyak teman di sekolah. Mereka yang awalnya kelihatan dingin, sekarang jadi pribadi yang sangat hangat dan selalu menolong. Bahkan aku dibikinkan pesta kecil dan dimasakin masakan khas Norwegia. Aku juga sudah pernah masak buat teman-teman aku. Aku masak Opor ayam dan Nasi Goreng.

 

Dari 5 bulan pertama ini saya belajar banyak hal. Mulai dari bertahan, mandiri, respect. Belajar untuk memahami diri sendiri, menyelesaikan masalah sendiri dan encourage diri sendiri untuk belajar leb. ih dan lebihDengan hidup jauh dari keluarga di Indonesia, aku jadi lebih menghargai apa yang aku punya dan menyadari betapa pentingnya kebersamaan bersama keluarga. Dengan hidup di negara lain yang budayanya jauh berbeda dari Indonesia, aku membuka mataku lebar-lebar untuk menerima dan menghargai perbedaan. Hidup di negara maju dan kaya seperti Norway ini, memberi kesempatan buat aku belajar hal-hal baru yang insyaAllah nantinya kalau pulang bisa diamalkan di Indonesia.

Semoga kita semua bisa memanfaatkan sisa waktu beberapa bulan di hostcountry masing-masing dengan semaksimal mungkin.

Selalu bersyukur ya teman-teman, jangn menyerah dan tetap semangat! Because.. We’re AFSer!

 

Love love,

Cinta <3

 

Welkom bij Lauwen. Fietsen naar Druten. Lekker Shoppen in de stad! Artinya : Welcome to Lauwen. Cycling to Druten. Enjoy shopping in town! Hallo Iedereen! Saya Dhania Yasmin, wakil AFS dari Jakarta yang sudah meninggalkan tanah air tercinta (sementara) dan memulai hidup baru di Negara yang sudah menjajah indonesia selama 300 tahun. Negara yang kalau bendungannya kenapa-kenapa *Nauzubillah Himinzalik* lebih dari setengah wilayahnya akan terendam air.  Negara yang terkenal dengan tulip dan kincir anginnya.  Pasti udah bisa nebakkan?? :) Yup, Belanda. Tanggal 9 september 2010 lalu aku memulai petualangan sekali seumur hidup disini!! Dari judulnya kehidupan saya sekarang bisa dibilang berkutik di antara tiga hal yaitu rumah, sekolah dan jalan-jalan. Oh iya! Jangan lupakan: Sepeda!! Zandstaart, jalan utama di Beneden Leeuwen  Aku tinggal di sebuah desa kecil yang berada diantara dua sungai besar, Maas dan Waal.  Sungai Waal terletak tidak jauh dari ruamhku dan airnya ditahan oleh dike (kayak semacam bendungan panjang namun ada jalan kecil diatasnya). Nama desaku adalah Beneden-Leeuwen, literary artinya di bawah singa (?). Tapi yang namanya desa di eropa jangan disamakan kayak di Indonesia.  Semua kebutuhan utama tersedia di center desa dan kalaupun ada yang tidak ada jarak kota yang lebih besar terbilang tidak jauh. (ki-ka) Netty,Anne,Loes,Nol,Ik! - Familie Van TIem Disanalah akutinggal bersama hostmom dan hostdadku :) Nollie dan Netty. Mereka berdua memiliki dua anak perempuan namun sudah besar-besar dan tidak tinggal di rumah. Loes dan Anne.  Loes tinggal dan bekerja di Utrech dan Anne sedang melanjutkan sekolah di Panama (dia pernah AFS disitu). Makanya aku disini sering berasa seperti anak tunggal! Well bad thing, ga ada teman becanda and good thing : you get all the attention! Kinderdijk, sebelum basah :p  Ik houd van mijn gastfamilie <3 Aku sayang banget sama keluargaku disini.  Hostmomku adalah orang yang sangat-sangat thoughtful.  Dan hostdadku adalah orang yang bisa dikatagorikan humoris dan pengen tahu segalanya.  Well, best thing is mereka suka jalan-jalan.  Jadi, dihari yang cerah aku sering diajak melihat sesuatu tempat yang baru dari Belanda. Parkiran sepeda dan gedung sekolah <3 Senen sampai Jumat aku pergi kesekolah yang, bisa ditempuh dengan bersepeda 8 km ditempuh dalam waktu 30 menit.  Nama tepatnya Druten.  Aku yang tadinya tidak pernah bersepeda mau tidak mau harus bisa menembus segala jenis cuaca demi mencapai sekolah. Mulai dari hujan, salju, hujan es, sampai angin kencang dari depan. Bisa dibilang sepeda juga menjadi olahraga rutinku disini :p hehehe. Sesampainya di sekolah  Pax Chirsti (walaupun namanya berbau kristen tapi murid2nya tidak harus kristen) biasanya langsung masuk kelas ataupun kalau belum aku biasa menunggu di aula (tempat nongkrong dan makan saat istirahat) atau mediatheek (ruangan komputer, dengan meja2 dan perpustakaan super kecil).  I got to know many good people in this little school! Lestemert, cari yg paling lebay -.-”  Remaja belanda terbilang unik menurutku.  Waktu mereka kebanyakan dipergunakan untuk belajar dan kerja.  Weekend biasanya pergi ke café, diskotik ato party.  Rasa responsibility mereka sangatlah kuat, sama uang juga.  They do things that are really needed. Itulah yang aku kagumi dan aku pelajari dari mereka. Amsterdram Trip with all AFSers! :DD Walaupun tempatku kecil bukan berarti aku ga kemana-mana. Dengan kereta, aku bisa travel ke hampir seluruh penjuru belanda! Dan entah kenapa yang menurutku unik disini adalah center kota = shopping center~ Dengan modal baju yang pas2an dan kostum sekolah bebas, saat sudah melihat toko diskon langsung deh :p Selain belanja, aku merasa makanan disini surprisingly great!! Mulai dari hot chocolate, appleflap, vlaa, dan berbagai sajian manis lainnya XD Aku menikmati hari demi hariku disini :) It’s slowly becoming my second home~ Beberapa hari yang lalu aku sempet ditanya temenku apakah aku menghitung hari-hariku untuk pulang ke Indonesia.  I said “no”, aku menghitung sisa-sisa hariku disini bersama kalian. I learned so much from them that’s really true. Nor just them but also family, society dan juga belajar untuk tahu lebih banyak tentang diriku sendiri.   Sekian cerita singkatku kali ini~ xxx yasmin  

Welkom bij Lauwen. Fietsen naar Druten. Lekker Shoppen in de stad!

Artinya : Welcome to Lauwen. Cycling to Druten. Enjoy shopping in town!

Hallo Iedereen! Saya Dhania Yasmin, wakil AFS dari Jakarta yang sudah meninggalkan tanah air tercinta (sementara) dan memulai hidup baru di Negara yang sudah menjajah indonesia selama 300 tahun. Negara yang kalau bendungannya kenapa-kenapa *Nauzubillah Himinzalik* lebih dari setengah wilayahnya akan terendam air.  Negara yang terkenal dengan tulip dan kincir anginnya.  Pasti udah bisa nebakkan?? :) Yup, Belanda. Tanggal 9 september 2010 lalu aku memulai petualangan sekali seumur hidup disini!!


Dari judulnya kehidupan saya sekarang bisa dibilang berkutik di antara tiga hal yaitu rumah, sekolah dan jalan-jalan. Oh iya! Jangan lupakan: Sepeda!!

Zandstaart, jalan utama di Beneden Leeuwen 

Aku tinggal di sebuah desa kecil yang berada diantara dua sungai besar, Maas dan Waal.  Sungai Waal terletak tidak jauh dari ruamhku dan airnya ditahan oleh dike (kayak semacam bendungan panjang namun ada jalan kecil diatasnya). Nama desaku adalah Beneden-Leeuwen, literary artinya di bawah singa (?). Tapi yang namanya desa di eropa jangan disamakan kayak di Indonesia.  Semua kebutuhan utama tersedia di center desa dan kalaupun ada yang tidak ada jarak kota yang lebih besar terbilang tidak jauh.

(ki-ka) Netty,Anne,Loes,Nol,Ik! - Familie Van TIem

Disanalah akutinggal bersama hostmom dan hostdadku :) Nollie dan Netty. Mereka berdua memiliki dua anak perempuan namun sudah besar-besar dan tidak tinggal di rumah. Loes dan Anne.  Loes tinggal dan bekerja di Utrech dan Anne sedang melanjutkan sekolah di Panama (dia pernah AFS disitu). Makanya aku disini sering berasa seperti anak tunggal! Well bad thing, ga ada teman becanda and good thing : you get all the attention!

Kinderdijk, sebelum basah :p 

Ik houd van mijn gastfamilie <3 Aku sayang banget sama keluargaku disini.  Hostmomku adalah orang yang sangat-sangat thoughtful.  Dan hostdadku adalah orang yang bisa dikatagorikan humoris dan pengen tahu segalanya.  Well, best thing is mereka suka jalan-jalan.  Jadi, dihari yang cerah aku sering diajak melihat sesuatu tempat yang baru dari Belanda.

Parkiran sepeda dan gedung sekolah <3

Senen sampai Jumat aku pergi kesekolah yang, bisa ditempuh dengan bersepeda 8 km ditempuh dalam waktu 30 menit.  Nama tepatnya Druten.  Aku yang tadinya tidak pernah bersepeda mau tidak mau harus bisa menembus segala jenis cuaca demi mencapai sekolah. Mulai dari hujan, salju, hujan es, sampai angin kencang dari depan. Bisa dibilang sepeda juga menjadi olahraga rutinku disini :p hehehe. Sesampainya di sekolah  Pax Chirsti (walaupun namanya berbau kristen tapi murid2nya tidak harus kristen) biasanya langsung masuk kelas ataupun kalau belum aku biasa menunggu di aula (tempat nongkrong dan makan saat istirahat) atau mediatheek (ruangan komputer, dengan meja2 dan perpustakaan super kecil).  I got to know many good people in this little school!

Lestemert, cari yg paling lebay -.-” 

Remaja belanda terbilang unik menurutku.  Waktu mereka kebanyakan dipergunakan untuk belajar dan kerja.  Weekend biasanya pergi ke café, diskotik ato party.  Rasa responsibility mereka sangatlah kuat, sama uang juga.  They do things that are really needed. Itulah yang aku kagumi dan aku pelajari dari mereka.

Amsterdram Trip with all AFSers! :DD

Walaupun tempatku kecil bukan berarti aku ga kemana-mana. Dengan kereta, aku bisa travel ke hampir seluruh penjuru belanda! Dan entah kenapa yang menurutku unik disini adalah center kota = shopping center~ Dengan modal baju yang pas2an dan kostum sekolah bebas, saat sudah melihat toko diskon langsung deh :p Selain belanja, aku merasa makanan disini surprisingly great!! Mulai dari hot chocolate, appleflap, vlaa, dan berbagai sajian manis lainnya XD

Aku menikmati hari demi hariku disini :) It’s slowly becoming my second home~ Beberapa hari yang lalu aku sempet ditanya temenku apakah aku menghitung hari-hariku untuk pulang ke Indonesia.  I said “no”, aku menghitung sisa-sisa hariku disini bersama kalian. I learned so much from them that’s really true. Nor just them but also family, society dan juga belajar untuk tahu lebih banyak tentang diriku sendiri.

 

Sekian cerita singkatku kali ini~

xxx

yasmin  

Schland oh Schland! 3 Monate Eindrücke Deutschland durch die Augen der Fraulein Hutzliputzli! (3 Months Overview Germany through the eyes of Miss Hutzliputzli) Olé aus Deutschland! Naa, lang nicht gesehen, geht’s euch alles gut? Drei Monate schon vorbei, möchtet ihr ein überblick über „Land der Ideen“ hören? ich kann es auch kaum warten um euch alle zu erzählen. Jetzt geht’s los!   So, who on the earth is Hutzliputzli? Well, das bin ich! so zu sag en.  It’s a nickname my conselor gave me during a few days of my stay in her house, and now most of everybody (at least from my afs regional comittee) use this name wh   en they are tired of calling me Monica. Hutzliputzli…Hää? What does it mean? It doesn’t mean anything really, it just sounds germanly cute to ca ll somebody who is so clumsy at times, forgetful but so random, and got a weird hair whe n she takes her morning kakao (read: hot chocolate). That iiiiiis… very Hutzliputzli.   Anyways, let’s take a little flashback to the day of my flight, 3rd of September 2010. Flying alone to Frankfurt, at first I was utterly nervous and insecure knowing it’s my first time travelling halfway around the world seperated from the rest of ‘Geng Jerman’, Jordy-Dala-Annisa. I wait for hours and hours as an unaccostomed minor in a pretty decent lounge when suddenly I met them in Dubai! what a coincidence! Emirates Airline is quite satisfying, I must add, especially they made one of my unforgettable moments in Fraport (Frankfurt International Airport) like when they took me to the baggage claim area with a cool airport car, I know little children must be very jealous! Ha! Willkommen in Deutschland, Baby! Have you heard of a well-known ketchup brand called „Heinz“, professional lens „Carl Zeiss“or the luxurious car „Mercedes Benz“? yes yees and yeees they are all from Germany, but that doesnt make you ‘know’ what Germany really offers to the world if you haven’t take a blick to its carnival city Mainz! My first placement was in Essenheim, a very little town in the middle of nowhere. No, I’m kidding. It’s only 15 minutes away from Mainz by bus, and the thing which reminds me most is its traditional-looking houses and pretty colorful flowers when I arrived there at the end of summer 2010. My welcome day was nice, my previous-hostmom Renate picked me up in the airport, then we drove home to Essenheim and she got in a little shock when she saw my hostsister Sophia sitting ON the street with a cat, waving. And next comes the house tour, the house rules, the neighbours, the two enormous cats, yada-yada-yada…and finally my decent bright yellow bedroom. I found myself drifted off to sleep, I would say gradually quickly. Alibi: Jetlag. The next afternoon when I woke up: Where in the hell am I?? Oh wait. G E R M A N Y?! Am I still dreaming? The sunlight crept into my room, when I looked out of the window the view of the garden took my breath away, sooo pretty. The smell of riping cranberry, those which I can harvest by myself, plus the sweet taste of some Haribo Gummibärchen on my tongue, perfect! I went downstairs and the breakfast was set ready. Tadaaaa….Bread. Außer Brötchen, zum Frühstück da gibts dann Butter, Eier, verschiedene sorten Marmeladen, Käse, uhaaaa alles mögliche eben. Ehem at first I could hardly decide which one of these should I try, everything seems nice and typical german and I wanted to try it all at once. After about three weeks eating bread most of the time, I was like “OMG Bread agaiiiin??!”. For breakfast, lunch, at school, dinner, whenever and wherever Germans are basically bread-addicted. They invented like too many types of bread and opens Backerei in every corners of the city. And please don’t ask why, they are very proud of it. „Hallo, ich bin Monica, Austauschschülerin aus Indonesien. (smiley)“ That’s my top straight-forward introductory line I have always used everytime I met new people in school, or just anywhere. My first german school is an Integriertes Gesamtschule in Mainz-Brezenheim, where students from first until 13th grade just being cooked together in a pot. The school got a lounge called Cafechino just for high school students to chill out, awesome! There’s also some sort of cafeteria called Mensa but nobody would actually go there because of the food, ekelhaft I heard, that’s why I never tried it either. By the way, I was placed in 11th grade, which in Mainz the system is moving classes like in college, so I didn’t have any regular classmates just a main class of English with E1 people. They are freaking awesome people when they wanted to be, but they were just too shy or too ‘german-cold’ to act that freaky during the class periods. Too bad. It was hard to find friends there, you might felt like you are just another regular students and nobody would care about your well being and just forget that somebody would notice your existence. But I was completely wrong, they do notice me, they just didn’t have the gut to talk to me or they didn’t find any reason to do it, too much of a pride maybe? I am the one who always have to come to them to say Hi for a small talk and then next day they put a new face and it felt like we’re strangers again. I didn’t have the slightest idea, I was clueless and stressful. And tired of bumping into somebody when I know that person would ignore me again anyway. Not that it’s enough to give me up. I kept trying to motivate myself to keep trying and after the first week, I found a hang-out group. Yes, german youngsters like to be in some kind of cliques or social groups, I hate to say it but in most cases…das passiert (shit happens). Miraculously a week later came another afs student from chile, Isidora, in my english class and she suffered the exact same thing. At least I’m not all alone afterall. No it’s really not as bad as you think, I actually enjoyed the rollercoaster ride of making german friends, it’s challenging! The key is…the language! Ich hab’s versucht immer Deutsch zu reden, no matter how messed up my german is. If I didn’t give enough effort it won’t go any better right? Well, these first 3 months of my AFS year I got along very well with my environment, my hostfamily, my afs friends, my friends in school, everything seems alright for me. I can sum it all up in one word: Wonderful! Here are some random shots: September: Probiere alles was gibt’s! (Caption: I spent my seventeenth birthday there, my previous hostfam made a morning surprise, a sweet birthday party at home afterschool, and another surprise from AFS in a Latino Bar during Stammtisch) Oktober-November: Farbenfrohe Vielfalt von der Herbst (Caption: Deitzenbach for the autumn weekend) (Caption: Herbstferien (Fall Break) in Austria with Alpeneverein. Hiking for a whole week!) (Caption: Sophia, Renate, Monica) (caption: Shopping Spree in frankfurt mit meine liebe Frau Schwester, Sophia Balzar) Anfang Dezember: Beginn eines kalten Winters, und ein kaltes Herz Just like the title, the cold wind of winter started to blow, it blew away something else too. The bond between me and Renate, my previous Hostmum. One Thursday, she was sooo mad at me because 1) I woke up late 2) I have forgotten to say “Tschuss” 3) I missed my bus 4) She had to drive me to school. One Friday she was acting so weirdly, she didn’t want me to help her at all, yet she was feeling like a Putzfrau. One Saturday, I had my decent Kakao (as always!) and the shock therapy began! Basically, she kicked me out of the house in a proper no-hard-feelings way. She said “we just don’t have chemistry with each other”. She couldn’t even pointed out the mistakes I have made, she said it’s not my fault it’s just the wrong chemistry. What? Seriously? Ya, that was exactly my first reaction. These 3 days were the climax of my downfall! The next day we tried to solved the misunderstanding and she wanted me to stay but things are not gonna be the same. Something is missing although I was really close with Sophia already. So I took the decision after nights without proper sleep. No fights, no hatred, no nothing, two weeks later I moved to my conselor’s house for a week and moved into a new Family: THE ROSENZWEIG (meaning: Rose Branch)! I still can’t believe that I have changed hostfam, because the reason was sort of too simple and sounds ridiculous but true. Ende Dezember: Neue Anfang am Ende des Jahres After a hurricane, comes a rainbow… Its like a turning point in my AFS year, things are getting so much much much better, and it happened unbelievably fast. In a few days the changes made me unglaublich glücklich! It didn’t take so long to adapt to the new family. instead I find my new family so cool and they fits me so well. A) I have a 7-year-old little sister and I couldn’t help pinching her cheeks for being too cute. B) The hostmom is from the Philippines, she talks perfect english and cooks rice and asian foods! C) The dad is fully german but looks like David Craig who starred in James Bond, and he listens to Notorious BMG! God! D) They have a hunting dog, Darill, which I would rather call Sleeping Bag. E) They live in Naurod, only 15 minutes away from even a bgger city…WIESBADEN! When I was in mainz I have always wanted to move to Wiesbaden and it comes true! F) G) H) I) J)…even Z) is not enough to breakdown the points I love from this family. I like my new school very much too! I have a regular class now, 11A, which is bilingual in Biology and Geography. Moreover, the classmates are frickin’ awesome. Random things made me fall in love really! (Caption: BORRUSSIA, BORRUSSIA BVB! Patricia “Kikay”, Papa Marcus und Ich) Winterferien Heidelberg Stuttgart Trier & LUXEMBOURG AFS-Camps AFS Mainz-Wiesbaden + Südpfalz = Lot’s of fun, lots of noise, lots of OMGs = Madness! Well, that’s all I can say for now. It’s irritating that I couldn’t put it all in here. Anyways, see you in Newsletter II! Kussi und Liebe Grüße aus Wiesbaden, Monica Stephanie Santosadjaja (The Hutzliputzli)

Schland oh Schland! 3 Monate Eindrücke Deutschland durch die Augen der Fraulein Hutzliputzli!

(3 Months Overview Germany through the eyes of Miss Hutzliputzli)

Olé aus Deutschland! Naa, lang nicht gesehen, geht’s euch alles gut? Drei Monate schon vorbei, möchtet ihr ein überblick über „Land der Ideen“ hören? ich kann es auch kaum warten um euch alle zu erzählen. Jetzt geht’s los!  

So, who on the earth is Hutzliputzli? Well, das bin ich! so zu sag en.  Its a nickname my conselor gave me during a few days of my stay in her house, and now most of everybody (at least from my afs regional comittee) use this name wh   en they are tired of calling me Monica. Hutzliputzli…Hää? What does it mean? It doesn’t mean anything really, it just sounds germanly cute to ca ll somebody who is so clumsy at times, forgetful but so random, and got a weird hair whe n she takes her morning kakao (read: hot chocolate). That iiiiiis… very Hutzliputzli.  

Anyways, let’s take a little flashback to the day of my flight, 3rd of September 2010. Flying alone to Frankfurt, at first I was utterly nervous and insecure knowing it’s my first time travelling halfway around the world seperated from the rest of ‘Geng Jerman’, Jordy-Dala-Annisa. I wait for hours and hours as an unaccostomed minor in a pretty decent lounge when suddenly I met them in Dubai! what a coincidence! Emirates Airline is quite satisfying, I must add, especially they made one of my unforgettable moments in Fraport (Frankfurt International Airport) like when they took me to the baggage claim area with a cool airport car, I know little children must be very jealous! Ha! Willkommen in Deutschland, Baby!

Have you heard of a well-known ketchup brand called „Heinz“, professional lens „Carl Zeiss“or the luxurious car „Mercedes Benz“? yes yees and yeees they are all from Germany, but that doesnt make you ‘know’ what Germany really offers to the world if you haven’t take a blick to its carnival city Mainz! My first placement was in Essenheim, a very little town in the middle of nowhere. No, I’m kidding. It’s only 15 minutes away from Mainz by bus, and the thing which reminds me most is its traditional-looking houses and pretty colorful flowers when I arrived there at the end of summer 2010.

My welcome day was nice, my previous-hostmom Renate picked me up in the airport, then we drove home to Essenheim and she got in a little shock when she saw my hostsister Sophia sitting ON the street with a cat, waving. And next comes the house tour, the house rules, the neighbours, the two enormous cats, yada-yada-yada…and finally my decent bright yellow bedroom. I found myself drifted off to sleep, I would say gradually quickly. Alibi: Jetlag. The next afternoon when I woke up: Where in the hell am I?? Oh wait. G E R M A N Y?! Am I still dreaming?

The sunlight crept into my room, when I looked out of the window the view of the garden took my breath away, sooo pretty. The smell of riping cranberry, those which I can harvest by myself, plus the sweet taste of some Haribo Gummibärchen on my tongue, perfect! I went downstairs and the breakfast was set ready. Tadaaaa….Bread. Außer Brötchen, zum Frühstück da gibts dann Butter, Eier, verschiedene sorten Marmeladen, Käse, uhaaaa alles mögliche eben. Ehem at first I could hardly decide which one of these should I try, everything seems nice and typical german and I wanted to try it all at once. After about three weeks eating bread most of the time, I was like “OMG Bread agaiiiin??!”. For breakfast, lunch, at school, dinner, whenever and wherever Germans are basically bread-addicted. They invented like too many types of bread and opens Backerei in every corners of the city. And please don’t ask why, they are very proud of it.

Hallo, ich bin Monica, Austauschschülerin aus Indonesien. (smiley)That’s my top straight-forward introductory line I have always used everytime I met new people in school, or just anywhere. My first german school is an Integriertes Gesamtschule in Mainz-Brezenheim, where students from first until 13th grade just being cooked together in a pot. The school got a lounge called Cafechino just for high school students to chill out, awesome! There’s also some sort of cafeteria called Mensa but nobody would actually go there because of the food, ekelhaft I heard, that’s why I never tried it either. By the way, I was placed in 11th grade, which in Mainz the system is moving classes like in college, so I didn’t have any regular classmates just a main class of English with E1 people. They are freaking awesome people when they wanted to be, but they were just too shy or too ‘german-cold’ to act that freaky during the class periods. Too bad. It was hard to find friends there, you might felt like you are just another regular students and nobody would care about your well being and just forget that somebody would notice your existence. But I was completely wrong, they do notice me, they just didn’t have the gut to talk to me or they didn’t find any reason to do it, too much of a pride maybe? I am the one who always have to come to them to say Hi for a small talk and then next day they put a new face and it felt like we’re strangers again. I didn’t have the slightest idea, I was clueless and stressful. And tired of bumping into somebody when I know that person would ignore me again anyway. Not that it’s enough to give me up. I kept trying to motivate myself to keep trying and after the first week, I found a hang-out group. Yes, german youngsters like to be in some kind of cliques or social groups, I hate to say it but in most cases…das passiert (shit happens). Miraculously a week later came another afs student from chile, Isidora, in my english class and she suffered the exact same thing. At least I’m not all alone afterall. No it’s really not as bad as you think, I actually enjoyed the rollercoaster ride of making german friends, it’s challenging! The key is…the language! Ich hab’s versucht immer Deutsch zu reden, no matter how messed up my german is. If I didn’t give enough effort it won’t go any better right?


Well, these first 3 months of my AFS year I got along very well with my environment, my hostfamily, my afs friends, my friends in school, everything seems alright for me. I can sum it all up in one word: Wonderful! Here are some random shots:

September: Probiere alles was gibt’s!


(Caption: I spent my seventeenth birthday there, my previous hostfam made a morning surprise, a sweet birthday party at home afterschool, and another surprise from AFS in a Latino Bar during Stammtisch)

Oktober-November: Farbenfrohe Vielfalt von der Herbst

(Caption: Deitzenbach for the autumn weekend)


(Caption: Herbstferien (Fall Break) in Austria with Alpeneverein. Hiking for a whole week!)

(Caption: Sophia, Renate, Monica)


(caption: Shopping Spree in frankfurt mit meine liebe Frau Schwester, Sophia Balzar)

Anfang Dezember: Beginn eines kalten Winters, und ein kaltes Herz

Just like the title, the cold wind of winter started to blow, it blew away something else too. The bond between me and Renate, my previous Hostmum. One Thursday, she was sooo mad at me because 1) I woke up late 2) I have forgotten to say “Tschuss” 3) I missed my bus 4) She had to drive me to school. One Friday she was acting so weirdly, she didn’t want me to help her at all, yet she was feeling like a Putzfrau. One Saturday, I had my decent Kakao (as always!) and the shock therapy began! Basically, she kicked me out of the house in a proper no-hard-feelings way. She said “we just don’t have chemistry with each other”. She couldn’t even pointed out the mistakes I have made, she said it’s not my fault it’s just the wrong chemistry. What? Seriously? Ya, that was exactly my first reaction. These 3 days were the climax of my downfall! The next day we tried to solved the misunderstanding and she wanted me to stay but things are not gonna be the same. Something is missing although I was really close with Sophia already. So I took the decision after nights without proper sleep. No fights, no hatred, no nothing, two weeks later I moved to my conselor’s house for a week and moved into a new Family: THE ROSENZWEIG (meaning: Rose Branch)! I still can’t believe that I have changed hostfam, because the reason was sort of too simple and sounds ridiculous but true.

Ende Dezember: Neue Anfang am Ende des Jahres

After a hurricane, comes a rainbow…

Its like a turning point in my AFS year, things are getting so much much much better, and it happened unbelievably fast. In a few days the changes made me unglaublich glücklich! It didn’t take so long to adapt to the new family. instead I find my new family so cool and they fits me so well. A) I have a 7-year-old little sister and I couldn’t help pinching her cheeks for being too cute. B) The hostmom is from the Philippines, she talks perfect english and cooks rice and asian foods! C) The dad is fully german but looks like David Craig who starred in James Bond, and he listens to Notorious BMG! God! D) They have a hunting dog, Darill, which I would rather call Sleeping Bag. E) They live in Naurod, only 15 minutes away from even a bgger city…WIESBADEN! When I was in mainz I have always wanted to move to Wiesbaden and it comes true! F) G) H) I) J)…even Z) is not enough to breakdown the points I love from this family. I like my new school very much too! I have a regular class now, 11A, which is bilingual in Biology and Geography. Moreover, the classmates are frickin’ awesome. Random things made me fall in love really!


(Caption: BORRUSSIA, BORRUSSIA BVB! Patricia “Kikay”, Papa Marcus und Ich)

Winterferien

Heidelberg

Stuttgart

Trier & LUXEMBOURG

AFS-Camps

AFS Mainz-Wiesbaden + Südpfalz = Lot’s of fun, lots of noise, lots of OMGs = Madness!

Well, that’s all I can say for now. It’s irritating that I couldn’t put it all in here. Anyways, see you in Newsletter II!

Kussi und Liebe Grüße aus Wiesbaden,

Monica Stephanie Santosadjaja

(The Hutzliputzli)